top of page

Kompak Unjuk Aksi Solidaritas HAM di Podium Olimpiade

Tidak hanya dalam menyuarakan HAM, ketiga pelari peraih medali Olimpiade 1968 juga “kompak” menerima konsekuensi pahitnya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Kiri-kanan: Peter George Norman, Tommie C. Smith, John Wesley Carlos. (worldathletics.org/roots-101.org).

16 Okt 2024
4 menit membaca

Diperbarui: 12 Jan

PEMANDANGAN berbeda terjadi di Olympic Stadium, Mexico City, 16 Oktober 1968 malam, pasca-pengalungan medali cabang lari 200 meter putra. Bukannya ikut menyanyikan lagu kebangsaan dengan khidmat, atlet atletik Amerika Serikat Tommie Smith dan John Carlos justru menunduk sembari mengangkat tangan terkepal ke atas sebagai simbol salam “Black Power”.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page