top of page

Kompak Unjuk Aksi Solidaritas HAM di Podium Olimpiade

Tidak hanya dalam menyuarakan HAM, ketiga pelari peraih medali Olimpiade 1968 juga “kompak” menerima konsekuensi pahitnya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Kiri-kanan: Peter George Norman, Tommie C. Smith, John Wesley Carlos. (worldathletics.org/roots-101.org).

16 Okt 2024
4 menit membaca

Diperbarui: 12 Jan

PEMANDANGAN berbeda terjadi di Olympic Stadium, Mexico City, 16 Oktober 1968 malam, pasca-pengalungan medali cabang lari 200 meter putra. Bukannya ikut menyanyikan lagu kebangsaan dengan khidmat, atlet atletik Amerika Serikat Tommie Smith dan John Carlos justru menunduk sembari mengangkat tangan terkepal ke atas sebagai simbol salam “Black Power”.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page