- 4 Jan 2020
- 2 menit membaca
Diperbarui: 29 Jul
BEBERAPA saat sebelum terjadi pertempuran di Desa Mardinding, Tanah Karo, Letnan Kadir Saragih menatap puncak bukit yang ada di desa tersebut. Cukup lama dia menatapi Bukit Mardinding itu. Dengan tatapan takjub, Kadir berujar dengan lepas kepada kawan sekompinya.
“Alangkah indahnya puncak bukit itu. Suatu tempat perhentian yang menyenangkan,” ujar Kadir. Dia melanjutkan, “Kalau nanti ada diantara kita yang gugur ditembus peluru senjata Belanda, kita makamkan di atas bukit ini sebagai tugu kenang-kenangan, sebagai ‘benteng kemenangan'.” Ucapan Letnan Kadir tersebut tercatat dalam buku harian komandan resimennya, Letkol Djamin Gintings yang pada 1964 diterbitkan dalam memoar berjudul Bukit Kadir.
Letnan Kadir adalah Komandan Seksi 2 Kompi 1 Batalion XV yang ditugaskan dalam operasi dadakan menggempur kubu pertahanan Belanda di Mardinding. Dalam kenangan Djamin Gintings, Letnan Kadir merupakan perwira muda berbadan tegap. Tingginya lebih kurang 160 cm. Menurut kawan-kawannya, Letnan Kadir memilki paras muka yang bisa menarik perhatian kaum Hawa.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















