- 4 jam yang lalu
- 3 menit membaca
PERJANJIAN Bongaya yang disepakati pada 18 November 1667 menjadi kemenangan VOC dalam Perang Makassar. Perjanjian tersebut merampas hegemoni regional Makassar dan menempatkannya di bawah kekuasaan VOC. Tak hanya itu, Perjanjian Bongaya menjadi bukti bahwa VOC berhasil meredam perlawanan salah satu lawan paling gigih, sehingga kerajaan-kerajaan lain semakin waspada terhadap VOC. Perjanjian ini melambungkan nama Cornelis Speelman, pemimpin ekspedisi militer dalam Perang Makassar.
Sejarawan Belanda, Frederik Willem Stapel mencatat dalam “Cornelis Janszoon Speelman”, yang termuat di Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 1936, Perang Makassar menjadi perhatian para petinggi VOC di Negeri Belanda, yakni Heeren Zeventien atau Dewan Tujuh Belas. Perjanjian Bongaya dianggap sebagai langkah penting dalam upaya VOC mengamankan dan memonopoli perdagangan di Hindia Timur.
“Dewan Tujuh Belas tidak hanya mengirimkan surat yang berisi apresiasi atas keberhasilan pasukan Speelman di Makassar, tetapi juga berterima kasih kepada sang pemimpin ekspedisi militer itu dengan menyisipkan kata-kata pujian untuknya,” tulis Stapel.
Surat itu juga mengumumkan bahwa mereka memutuskan untuk mempromosikan Speelman menjadi anggota Dewan Hindia, dan sebagai pengakuan atas kesuksesannya, Speelman mendapat hadiah medali rantai emas yang nilainya mencapai ribuan gulden.
Keberhasilan Speelman memimpin ekspedisi militer dalam Perang Makassar membuat namanya muncul dalam rapat-rapat pejabat VOC. Kali ini untuk mengembalikan kestabilan di Mataram karena Susuhanan Amangkurat I tengah menghadapi perlawanan yang semakin kuat.
Menurut Sejarawan Gerrit Knaap dalam Genesis and Nemesis of the First Dutch Colonial Empire in Asia and South Africa, 1596–1811, salah satu faktor yang memperumit situasi adalah orang Makassar yang berpindah-pindah. Setelah mengalami kekalahan di tangan VOC dan Arung Palakka, banyak orang Makassar meninggalkan Sulawesi Selatan dan bermigrasi ke wilayah lain di Nusantara. Pada 1674, sekitar 800 orang Makassar berlayar dengan sekitar 30 kapal dan menetap di bagian timur Mataram. Banyak di antara mereka yang tinggal di tempat yang disebut Demung. Di sana, mereka bekerjasama dengan Trunajaya, seorang pangeran dari Madura, yang melakukan perlawanan kepada Amangkurat I.
“VOC menganggap orang Makassar di Mataram sebagai faktor risiko. Oleh karena itu, pada awal 1676, VOC mengirim armada delapan kapal ke Jawa Timur untuk melakukan aksi gabungan dengan pasukan darat Mataram. Setelah negosiasi gagal meyakinkan orang Makassar untuk kembali ke tempat asal mereka secara sukarela, pertempuran pun meletus. Aksi awal mengecewakan karena kesulitan dalam mengoordinasikan operasi antara VOC dan Mataram. Pada September 1676, Mayor Christiaan Poleman dengan 900 orang akhirnya berhasil merebut Demung. Setelah itu, orang Makassar pindah ke Madura,” tulis Knaap.
Tak lama setelah orang Makassar bergabung dengan Trunajaya di Madura, mereka kemudian menyeberangi Selat Madura ke Jawa. Trunajaya bermarkas di Surabaya, sementara pasukan dan sekutunya maju sepanjang pantai utara menuju Jawa Tengah. Pasukan yang dikirim Mataram untuk menahan pergerakkan mereka dikalahkan pada Oktober 1676. Orang Madura dan Makassar menguasai seluruh pantai Jawa Timur dan Tengah.
Kondisi inilah yang membuat pejabat VOC berunding untuk melancarkan aksi nyata dalam meredam kemelut Mataram. Penyebabnya, pada November 1676 orang Madura dan Makassar menyerang Jepara, tempat pabrik Belanda termasuk pasukan kecil VOC yang membantu otoritas lokal mengusir musuh.
Pada tahap ini, Trunajaya dan orang Makassar sudah mulai menjauh, yang menyebabkan pihak terakhir mundur ke Jawa Timur. Sementara itu, baik Amangkurat I maupun Trunajaya berusaha memenangkan dukungan VOC. VOC mengutus Cornelis Speelman memimpin ekspedisi ke Jepara untuk memediasi kedua belah pihak. Sementara itu, atas undangan pemimpin lokal setempat, orang Belanda membangun benteng di dekat kota Jepara, yang menjadi benteng pertama VOC di wilayah Mataram.
“Fakta ini segera membuat Speelman condong ke pihak Mataram, dan pada awal 1677 dia menandatangani perjanjian dengan Susuhunan, yang mengatur bahwa VOC akan memberikan bantuan militer kepada pihak Mataram sebagai imbalan atas penggantian biaya perang,” tulis Knaap.
Setelah urusan di Jepara selesai, Speelman dan pasukannya tiba di Surabaya pada April 1677 untuk menemui Trunajaya. Speelman berupaya meyakinkan Trunajaya agar mengakui Amangkurat I sebagai Susuhunan dan mundur ke Madura. Tetapi Trunajaya menolak sehingga Speelman mendeklarasikan perang.
Speelman mendaratkan pasukan, dan setelah negosiasi baru yang sia-sia, posisi Madura dihancurkan pada 13 Mei 1677. Trunajaya berhasil melarikan diri ke pedalaman. Dua bulan berselang, dari Surabaya ketika penyakit merenggut banyak korban di kalangan Belanda, ekspedisi militer diluncurkan untuk membumihanguskan Madura.
Dari pedalaman Jawa, Trunajaya mengumpulkan pasukan baru dan menghancurkan keraton di Plered, sekitar Yogyakarta saat ini, tidak jauh dari pantai selatan Jawa. Amangkurat I melarikan diri ke Tegal di pantai utara yang menjadi tempat meninggalnya. Putra mahkota menggantikan posisinya sebagai Amangkurat II.
Di tengah kemelut Mataram, Speelman menerima surat penting dari Batavia. Isinya mengumumkan bahwa Dewan Tujuh Belas dalam surat tanggal 21 Oktober 1676 menetapkan, jika Gubernur Jenderal VOC Joan Maetsuycker meninggal, posisinya akan digantikan oleh Rijckloff van Goens, dan Speelman akan dipromosikan menjadi penasihat pertama dan Direktur Jenderal.*













Komentar