- Petrik Matanasi
- 12 Mar 2024
- 3 menit membaca
Diperbarui: 18 Jan
PADA pertengahan 1938, ketika kapal laut tak secepat sekarang, sebuah keluarga kecil harus naik kapal untuk bisa mencapai pulau lain demi mencari penghidupan ke tanah yang jauh dari tanah kelahiran mereka. Mereka harus ke Kalimantan bagian timur.
“Dengan menumpang kapal Pahud dari KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij) kami bertolak dari Tanjung Perak, membawa anak pertama Mamang yang baru berumur dua tahun,” aku Armistiani dalam Bukit Kenangan.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












