- 6 Mar 2024
- 4 menit membaca
Diperbarui: 8 Mar
Sebuah kapal merapat di Tanjungselor, Kalimantan Timur pada Juni 1938. Di dermaga, orang-orang yang hendak menjemput para penumpang kapal itu telah berkerumun. Di antara orang yang berkerumun itu terdapat pria bernama Boenjamin. Dia merupakan bintara administrasi tentara kolonial, Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL), yang belum lama ditugaskan di Tanjungselor.
Bersama beberapa orang Belanda dan Indo serta seorang juru rawat bernama Yusuf, Boenjamin hendak menjemput pria asal Jawa bernama Soemarno Sastroatmodjo beserta istrinya Armis dan anak mereka, Mamang alias Sidharta Manghurudin.
Soemarno adalah dokter muda lulusan Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) –alias Sekolah Dokter Hindia Belanda– di Surabaya. Dia ditugaskan ke Tanjungselor, wilayah yang secara tradisional merupakan daerah kekuasaan Kesultanan Bulungan.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















