top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Mata-mata Jepang dalam Kekalahan Belanda

Jepang mengalahkan Belanda dengan mudah. Ada peran mata-mata yang telah tinggal lama di Indonesia.

Oleh :
Historia
31 Jul 2021

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Tentara Belanda menyerah kepada tentara Jepang. (forum.axishistory.com).

  • 1 Agu 2021
  • 3 menit membaca

ORANG-orang Jepang telah tinggal di Surabaya sejak zaman kolonial Belanda. Di antara mereka banyak yang membuka toko, misalnya toko Chioda yang bersebelahan dengan toko besar milik orang Inggris, Whiteway. Namun, mereka tiba-tiba meninggalkan tokonya. Mencurigakan.


Ternyata, pemerintah Jepang telah memberi tahu warganya bahwa perang dengan Belanda tidak terhindarkan. Mereka pun pulang secara bertahap dengan kapal-kapal Jepang yang rutin berlayar ke Hindia Belanda.


“Toko Jepang terbengkalai atau dibeli pedagang Tionghoa. Ada sebagian diklaim pemerintah militer Jepang. Tetapi, banyak sumber menyebutkan terbengkalai,” kata Meta Sekar Puji Astuti, Ketua Departemen Sastra Jepang Universitas Hasanuddin Makassar, kepada Historia beberapa waktu lalu.


Sejarawan Frank Palmos dalam Surabaya 1945: Sakral Tanahku menyebut bahwa perginya mereka bagian dari rencana panjang Jepang yang terpantau oleh badan intelijen Hindia Belanda. Seperti dijabarkan dalam laporan resmi tentang kegiatan mata-mata Jepang, Ten Years of Japanese Burrowing in the Netherlands East Indies, yang diterbitkan oleh Netherlands East Indies Service pada 1942.


“Dokumen ini melaporkan secara detail siasat Jepang memperkuat jaringan spionase beberapa tahun sebelum menyerang,” tulis Palmos.  


Palmos melanjutkan, pihak intelijen pemerintah kolonial Belanda melampirkan bukti bahwa warga sipil Jepang yang menghilang sebelum pasukan Jepang mendarat, datang kembali dalam seragam militer bersama pasukan pendudukan.


Ide Anak Agung Gde Agung, menteri luar negeri era Sukarno, mengungkapkan bahwa mata-mata Jepang pada masa kolonial Belanda sering bepergian dari kota ke kota, dari pelabuhan ke pelabuhan, untuk menghimpun informasi, tanpa menimbulkan kecurigaan karena menyamar sebagai pebisnis.  


“Gerak-gerik mata-mata Jepang menjadi gamblang maksudnya ketika mereka kembali sebagai bagian dari pasukan pendudukan,” tulis Palmos. Yang jelas, informasi yang mereka kumpulkan telah dilaporkan dan dimanfaatkan dengan baik oleh militer Jepang dalam menentukan lokasi pendaratan pasukan infanteri mereka.


Bahkan, menurut Palmos, berkat pengetahuan mendalam mata-mata Jepang soal industri minyak bumi di Hindia Belanda, sabotase Belanda pada instalasi minyak bumi menjelang kekalahan dengan mudah dapat diperbaiki oleh Jepang.


Pada 8 Desember 1941 melalui siaran radio diumumkan perang antara Jepang dan Belanda. Pada 9 Januari 1942, Belanda menangkap sekira 2.093 orang Jepang, hampir semuanya laki-laki, yang masih berada di Hindia Belanda dan mengasingkannya ke Australia. Jepang mengalahkan Belanda dengan mudah dan mengambil alih pendudukan atas Indonesia pada Maret 1942.


“Sejarah toko Jepang ini bisa dikatakan terhapus dari Hindia Belanda yang kemudian digantikan dengan sejarah pendudukan Jepang di Hindia Belanda,” kata Meta.


Meskipun sebagian besar pemilik dan pengelola toko Jepang kembali ke Jepang, namun sekira 707 orang Jepang kembali ke Indonesia. Menurut Meta, kembalinya mereka sebagai pegawai pemerintah militer Jepang menguatkan dugaan bahwa semua mantan pemilik dan pengelola toko Jepang di Hindia Belanda adalah mata-mata.


“Mereka datang bukan untuk berdagang, tetapi bekerja untuk pemerintah pendudukan,” kata Meta yang menulis buku Apakah Mereka Mata-mata? Orang-orang Jepang di Indonesia 1868–1942.


Mengapa Belanda tidak siap menghadapi Jepang padahal rajin mengumpulkan data tentang kegiatan mata-mata Jepang?


Menurut Palmos, salah satu sebab Belanda kedodoran adalah keyakinan mereka bahwa pangkalan militer Inggris di Singapura tidak mungkin dikalahkan Jepang. Jika Singapura tidak bisa runtuh, Jepang pun tidak bisa masuk ke Hindia Belanda. Ketika Inggris di Singapura benar-benar takluk, pemerintah Hindia Belanda panik. Belanda dengan mudah ditaklukkan oleh Jepang.


Rakyat Surabaya penasaran bagaimana rupa bangsa penakluk Belanda. Mereka keluar rumah untuk menyaksikan tentara Jepang yang masuk melewati jalan-jalan. Mereka terkejut melihat tentara Jepang yang pendek di atas sepeda, memanggul bedil yang terlihat kebesaran untuk postur mereka.


Awalnya kehidupan berjalan seperti biasa. Semuanya berubah dalam waktu singkat. Jepang mengerahkan dengan paksaan semua sumber daya untuk keperluan perang. Meski hanya tiga setengah tahun, pendudukan Jepang telah mengakibatkan penderitaan bagi rakyat Indonesia.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Kisah Pasukan Kristen dan Muslim Mengusir Invasi Viking

Kisah Pasukan Kristen dan Muslim Mengusir Invasi Viking

Invasi armada Viking menyisakan pembantaian dan penjarahan. Baik pasukan Asturia maupun pasukan Emirati Qurtubah gemilang memberi pukulan balik.
KRI Irian dan Pemetik Bass Genesis

KRI Irian dan Pemetik Bass Genesis

Meski pernah melarangnya main gitar, Mike Rutherford didukung ayahnya bermusik. Sukses lewat Genesis.
Masa Pahit Kesultanan Langkat

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Kesultanan paling kaya di masa Hindia Belanda luluh lantak digilas revolusi sosial. Padahal, sang sultan telah menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.
Jejak Perjuangan Ali Khamenei

Jejak Perjuangan Ali Khamenei

Menjadi aktivis yang melawan rezim Pahlavi, Ali Khamenei sempat dipenjara sebanyak enam kali. Bagaimana perjalanan hidupnya?
Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Basis God Bless Donny Fattah pandai menulis lagu dan peduli pada kehidupan bangsanya. Lagunya cukup kritis di era Orde Baru.
bottom of page