top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Kisah Pasukan Kristen dan Muslim Mengusir Invasi Viking

Invasi armada Viking menyisakan pembantaian dan penjarahan. Baik pasukan Asturia maupun pasukan Emirati Qurtubah gemilang memberi pukulan balik.

Oleh :
Historia
11 Mar 2026

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Ilustrasi armada Viking dalam lukisan karya Nikolai Rerikh (tretyakovgallery.ru)

  • 2 jam yang lalu
  • 4 menit membaca

SEJAK penaklukan Kerajaan Hispania oleh Kekhalifahan Umayyah kurun 711-715 Masehi, wilayah Andalusia (kini wilayah selatan Spanyol) pada abad ke-9 bergeliat sebagai pusat keilmuan dunia Islam di bumi belahan barat. Namun yang tak disangka, bangsa Viking di masa yang sama juga tengah gencar berekspansi ke selatan. Wilayah Andalusia termasuk yang dibidik.


“Mulai 834 (Masehi) serangan-serangan bangsa Viking berubah menjadi ekspedisi berskala besar. Setiap biara, gereja, dan kota di Kepulauan Britania diserang dan dijarah orang-orang Nordik dari utara – kini Denmark, Swedia, dan Norwegia. Berturut-turut London dijarah (pada 841) kemudian Nantes, Rouen, Paris, dan pedalaman Gaul. Orang-orang Nordik dari Swedia juga merebut kota Kiev, di mana pemimpinnya, Rurik, mendirikan ibukota permanen setelah memperbudak para penduduk Slavik,” ungkap Arthur Herman dalam The Viking Heart: How Scandiavians Conquered the World.


Di Andalusia sendiri memang sempat terjadi perpecahan pasca-Revolusi Abbasiyah (747-750), di mana Kekhalifahan Abbasiyah menumbangkan Kekhalifahan Umayyah. Di Andalusia, Abdulrahman bin Mua’wiyah (Abdulrahman I) mendirikan Emirati Qurtubah (Córdoba) pada 756 dengan ibukotanya di Córdoba, yang bertahan hingga tahun 1031.


“Di bawah Dinasti Umayyah di Córdoba, kalangan Moors (Arab Afrika Utara, red.) di Spanyol pada abad ke-9 dan ke-10, mencapai puncak kebudayaan dan peradaban jauh melebihi negeri-negeri lain di Eropa. Dalam sains dan pendidikan, dalam kesenian dan sastra, mereka yang menguasainya. Akan tetapi kemudian bangsa Viking hendak mengukur kekuatan mereka,” tulis Jón Stefánsson dalam artikel di buku Saga-Book of the Viking Club: Vol. VI, “The Vikings in Spain: From Arabic (Moorish) and Spanish Sources”.


Emirati Qurtubah menguasai sisa-sisa wilayah Kekhalifahan Umayyah di Andalusia. Sedangkan di utara Semenanjung Iberia (kini wilayah Portugal), Kerajaan Asturia juga berdiri pada 711 sebagai benteng kerajaan Kristen pasca-runtuhnya Kerajaan Hispania. Hubungan keduanya tergolong dinamis: terkadang berperang di perbatasan, kadang pula berdamai.


“Para raja Asturia sebenarnya senang untuk berdamai dengan pihak Saracen (Arab muslim) ketika perdamaian itu menguntungkan mereka, terutama jika perdamaian itu membuat mereka lebih leluasa mengejar musuh mereka yang lain, para pemberontak Basque di Galicia,” ungkap David Abulafia dan Nora Berend dalam Medieval Frontiers: Concepts and Practices.


Terlepas dari dinamisme konflik dan perdamaian itu, kedua pihak menghadapi musuh yang sama pada pertengahan abad ke-9. Pada medio 844, pasukan Kristen dan muslim sama-sama meladeni invasi armada Viking yang datang dari utara.


Raja Asturia, Ramiro I, dalam lukisan potret karya Isidoro Lozano (museodelprado.es)
Raja Asturia, Ramiro I, dalam lukisan potret karya Isidoro Lozano (museodelprado.es)

Invasi ke Asturia dan Andalusia

Armada Viking mengumpulkan 100 kapal lebih dulu di Noirmoutier, Prancis, dekat lepas pantai Samudera Atlantik. Kapal-kapal itu berisi sekitar 16 ribu prajurit, meski hingga saat ini belum ada sumber Arab, Spanyol, maupun sumber-sumber Skandinavia yang bisa memastikan siapa yang memimpin armadanya. Diperkirakan, mereka mulai tiba di Iberia medio Juni 844 (bertepatan Ramadhan 229 Hijriah).


“Sumber-sumber Spanyol menyebut bangsa Viking dengan banyak sebutan, seperti hombre del norte (orang-orang Utara), kadang lothomani atau orang-orang barbar. Sedangkan sumber-sumber Arab menyebut mereka madjus atau kafir penyembah api dan berhala. Sumber-sumber Spanyol menyebut mereka lebih dulu menyerang Asturia di masa Raja Ramiro I (842-850). Sumber-sumber Arab menyebutkan invasi (ke Asturia) itu terjadi pada musim panas 844,” sambung Stefánsson.


Kerajaan Asturia jadi yang pertama menyambut armada Viking dengan hunusan pedang dan panah pada musim panas 844. Armada Viking datang menyusuri Sungai Seine, Loire, dan Garonne hingga mencapai pantai utara Iberia.


“Sebagian armada Viking mendekati pantai Asturia dekat Gegio (kini Gijón). Namun setelah mereka sadar kota itu punya perbentengan yang kuat, mereka pergi. Lalu mereka tiba di mercusuar tua yang dikenal sebagai Farum Brigantium (kini Menara Hercules) di kota A Coruña,” tulis Rolf Scheen dalam artikelnya di jurnal Militaria No. 8 tahun 1996, “Viking raids on the Spanish Peninsula”.


Medio Juli 844, armada Viking pun mendarat dan melancarkan serangan untuk merebut A Coruña. Mereka lebih dulu menjarah desa-desa sekitar sebelum akhirnya bertemu pasukan Raja Ramiro I dalam pertempuran di dekat Menara Hercules.


“Meski kerajaannya kecil, pasukan Asturia justru memperlihatkan keberaniannya menghadapi marabahaya itu. Sang raja menghimpun pasukan dengan cepat dan melalui pertempuran alot, pasukan Viking dikalahkan. Para penyintasnya diburu dan sekitar 70 kapal mereka dibakar,” ungkap Thomas D. Kendrick dalam A History of the Vikings.


Patung Emir Abdulrahman II di kota Murcia (condadodecastilla.es)
Patung Emir Abdulrahman II di kota Murcia (condadodecastilla.es)

Kendati begitu, sisa-sisa armada Viking masih cukup kuat setelah mengumpulkan yang tersisa di Cabo Fisterra. Pada bulan-bulan berikutnya armada itu mulai berlayar ke selatan ke pesisir Andalusia di wilayah Emirati Qurtubah. Sayangnya di saat itu Emir Abdulrahman II belum memiliki armada laut untuk menangkal pendaratan pasukan Viking.


Tak ayal, kota-kota seperti Al-Ushbuna (kini Lisbon), Qadis (Cádiz), Madinat Saduna (Medina-Sidonia), hingga Isbiliya (Sevilla) gagal memberikan perlawanan. Bangsa Viking menjarah kota-kota itu, hingga kemudian mendirikan kamp-kampnya di delta Sungai Guadalquivir.


“Abdulrahman II mengirim utusan ke para gubernur di selatan dengan perintah mengumpulkan pasukan. Pasukan utamanya dipimpin Musa bin Musa al-Qasi dari Bani Qasi. Meski ia berasal dari kalangan rival sang, Musa berekonsiliasi dan mendapatkan kepercayaan sebagai panglima perangnya,” ungkap Brian A. Catlos dalam Kingdoms of Faith: A New History of Islamic Spain.


Meski begitu, hingga kini belum ada sumber manapun yang bisa mengonfirmasi berapa jumlah pasukan yang dipimpin Musa. Yang hanya bisa dipastikan, pasukan Musa sukses menyergap bangsa Viking di tepi Sungai Guadalquivir.


“Kavaleri Umayyah mengepung kamp-kamp mereka dan membakar kapal-kapalnya dengan ‘Api Yunani’, senjata mirip bom bakar napalm. Pihak Viking mengalami kekalahan hebat lagi. Yang terkepung dibantai habis dan para penyintasnya mundur dalam kepanikan,” tambahnya.


Belajar dari invasi itu, Emir Abdulrahman II membangun armadanya. Pasalnya, itu bukan kali terakhir armada Viking datang merongrong. Pasalnya medio 858, armada Viking kembali melancarkan invasinya.


“Sekitar 14 tahun kemudian, bangsa Viking balik lagi. Kali ini Emirati sudah siap. Armada muslim mencegatnya di pesisir Portugal pada 858 dan rencana mereka menjarah Lembah Guadalquivir harus dibatalkan, ketika Emir Muhammad I, juga sudah menyiapkan pasukan yang ia pimpin sendiri,” tandas Catlos.







Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Kisah Pasukan Kristen dan Muslim Mengusir Invasi Viking

Kisah Pasukan Kristen dan Muslim Mengusir Invasi Viking

Invasi armada Viking menyisakan pembantaian dan penjarahan. Baik pasukan Asturia maupun pasukan Emirati Qurtubah gemilang memberi pukulan balik.
KRI Irian dan Pemetik Bass Genesis

KRI Irian dan Pemetik Bass Genesis

Meski pernah melarangnya main gitar, Mike Rutherford didukung ayahnya bermusik. Sukses lewat Genesis.
Masa Pahit Kesultanan Langkat

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Kesultanan paling kaya di masa Hindia Belanda luluh lantak digilas revolusi sosial. Padahal, sang sultan telah menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.
Jejak Perjuangan Ali Khamenei

Jejak Perjuangan Ali Khamenei

Menjadi aktivis yang melawan rezim Pahlavi, Ali Khamenei sempat dipenjara sebanyak enam kali. Bagaimana perjalanan hidupnya?
Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Basis God Bless Donny Fattah pandai menulis lagu dan peduli pada kehidupan bangsanya. Lagunya cukup kritis di era Orde Baru.
bottom of page