top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Membendung Invasi Mongol di Palestina

Sebelum diusir Majapahit di Jawa, invasi bangsa Mongol juga terhenti di Palestina. Kesultanan Mamluk membendungnya pasca-Salat Jumat di bulan puasa.

Oleh :
Historia
26 Feb 2026

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Ilustrasi dalam manuskrip "Nihayat al-Su'l" menggambarkan persiapan pasukan Mamluk jelang menghadapi Mongol (Britannica)

  • 5 jam yang lalu
  • 4 menit membaca

KOTA-KOTA yang terbakar hingga jutaan nyawa manusia penduduknya melayang lazim jadi buntut invasi bangsa Mongol. Kendati di masa jayanya bangsa Mongol sampai punya wilayah kekuasaan dari pesisir Pasifik di timur hingga dekat gerbang kota Wina di barat, terdapat pula kisah serangan-serangan Mongol yang kandas. Salah satunya di Palestina.


Jauh sebelum Raden Wijaya sang pendiri Majapahit membantai pasukan Mongol di Jawa (1293) dan para samurai Jepang mengusir invasi Mongol (1274-1281) serta dicegahnya invasi Mongol ke India oleh Kesultanan Delhi (1221-1327), bangsa Mongol lebih dulu merasakan getir kekalahan dari Kesultanan Mamluk (1260). Kekalahan Mongol di tanah Palestina itu disebut-sebut sebagai kekalahan menentukan dan permanen pertama Mongol karena sekaligus membendung invasi Mongol menuju kawasan Afrika Utara dan Eropa melalui Mediterania.


Pasukan Mongol kocar-kacir setelah meladeni perlawanan alot Kesultanan Mamluk yang dipimpin Sultan Sayf ad-Din Qutuz dan jenderalnya, Baybars al-Bunduqdari, di Pertempuran Ain Jalut pada 3 September 1260. Ketika itu masih di bulan puasa, tepatnya tanggal 26 Ramadan 658 Hijriah. Beberapa sumber lain menyebut pertempurannya terjadi pada 6 September 1260/25 Ramadan Hijriah.


“[Pasukan sultan] Qutuz lebih dulu masuk ke pedalaman wilayah Palestina. Qutuz dikenal rendah hati dengan iman yang begitu dalam dan kemanjuran pada doa dalam shalat-shalatnya. Maka pasukannya juga terdapat para ulama untuk menjaga moral pasukan. Sebelum bertemu pasukan Mongol, Qutuz memilih mengulur pertempuran sampai setelah ibadah Shalat Jumat, berharap pada efek manfaat doa-doa umat muslim seluruh dunia untuk mendoakan pasukan muslim,” tulis sejarawan Dr. Tareq M. Suwaidan dalam Palestine: Yesterday, Today and Tomorrow.



Kesultanan Mamluk –yang muncul pasca-penggulingan Kesultanan Ayyubiyah– saat itu tengah berada di awal masa keemasannya (1250-1382). Beribukota di Kairo, kekuasaan dan pengaruh Kesultanan Mamluk terbentang dari Barqa (Libya) di ujung barat, Dongola (Sudan) di selatan, hingga Al-Rahba (Suriah).


Namun, ancaman datang dari timur, bangsa Mongol. Kala itu Mongol berada di bawah kekuasaan Mongke Khan, cucu Genghis Khan. Pasukannya dipercayakan kepada sepupunya, Hulegu Khan, dan berangkat untuk kampanye invasi ke barat pada 1256.


Baghdad, pusat era keemasan Islam di bawah Kekhalifahan Abbasiyah, turut jadi korban. Pasca-Pengepungan Baghdad pada awal 1258, kota itu luluh-lantak. Sekitar dua juta nyawa melayang, termasuk penguasa terakhir Kekhalifahan Abbasiyah, Al-Musta’sim.


Berturut-turut kemudian giliran Aleppo dan Damaskus di wilayah Syam (kini Suriah) yang direbut Hulegu Khan bersama jenderalnya, Kitbuqa Noyan. Kini Hulegu Khan membidik Kairo dengan rute melalui Palestina. Ia pun mengirimi surat ultimatum melalui utusannya untuk Sultan Qutuz di Kairo.


“Anda telah mendengar kami menaklukkan tanah-tanah itu, melenyapkannya dari muka bumi. Berkacalah nasib itu akan menimpa jika menentang kami. Anda harus sadar bagaimana kami merebut kerajaan-kerajaan terkaya di dunia. Ke mana Anda bisa berlindung, ke jalan mana yang menyelamatkan Anda, tempat mana yang bisa melindungi Anda? Anda takkan selamat dari pedang kami, kuda-kuda kami secepat angin, panah-panah kami menghujam dengan tajam, pedang-pedang kami seperti petir, hati kami seperti batu gunung dan jumlah kami seperti butiran pasir. Benteng-benteng takkan membendung kami, pasukan biasa hanya akan sia-sia melawan kami. Dan doa-doa Anda kepada Tuhan takkan berguna terhadap kami,” tulis petikan surat Hulegu kepada Qutuz, dikutip Ahmet Mavi dalam The Angel of Death: Mongol Emperor Hulagu Khan.



Lukisan yang mengilustrasikan Pengepungan Baghdad oleh pasukan Mongol (bnf.fr)
Lukisan yang mengilustrasikan Pengepungan Baghdad oleh pasukan Mongol (bnf.fr)

Momentum dan Taktik yang Tepat

Ada sedikit rasa gentar di hati Sultan Qutuz. Ia pun “berembuk” dengan para penasihatnya. Tak sedikit yang menyarankan untuk tunduk pada Mongol. Kendati pada akhirnya Sultan Qutuz memberi jawaban dengan tegas dengan menghabisi para utusan Mongol dan memajang kepala-kepala mereka yang terpenggal di Gerbang Bab Zuweila di Kairo.


Di sisi lain terjadi peristiwa yang turut berpengaruh besar. Pasca-kematian Mongke Khan pada akhir 1259, Hulegu Khan “mudik” ke ibukota Mongol di Karakorum untuk memastikan takhta Mongol berikutnya jatuh ke tangannya.


Kondisi itu meninggalkan hanya Kitbuqa di Aleppo. Ia masih memiliki 10 ribu pasukan Mongol, ditambah sekitar 2.000 ribu pasukan bantuan Kerajaan Georgia, Kerajaan Cilicia Armenia, serta-sisa-sisa pasukan Ayyubiyah yang menyerah dan dipaksa mengabdi pada Mongol.


Mendengar kabar itu, Qutuz tak ingin menyia-nyiakan momentumnya. Ia segera menghimpun kekuatan. Ia juga bernegosiasi dengan Kerajaan Yerusalem untuk netral dan memberi dukungan moril padanya ketimbang bangsa Mongol yang dianggap barbar oleh orang Eropa.



Sedangkan di Kairo sendiri, Qutuz juga mengumpulkan sekitar 14.000 pasukan. Ia mempercayakan pasukan itu dipimpin Baybars, jenderal yang sempat jadi musuh bebuyutan Qutuz. Bahkan Baybars yang kemudian pada Juli 1260 memimpin pasukan terdepan segera berangkat melawan Mongol melalui Gaza dan “numpang lewat” ke wilayah Kerajaan Yerusalem.


Mendengar kabar Kesultanan Mamluk menggerakkan pasukan, Kitbuqa yang tak bisa terus menunggu kembalinya Hulegu Khan, turut menggerakkan pasukan ke selatan dengan rute Danau Tiberias dan menyeberangi Sungai Yordan hingga ke Lembah Al-Jalil dan Lembah Bin Amir. Ternyata pasukan Baybars sudah lebih dulu merebut sebuah medan dan menanti pasukan Mongol di dekat situ, tepatnya dekat Wadi Ain Jalut, Palestina.


“Wadi Ain Jalut yang artinya ‘Mata Air Jalut’ karena di tempat inilah disebutkan (nabi) Daud mengalahkan Jalut. Faktanya juga banyak terjadi pertempuran di sini. Sebelumnya pasukan Islam Saladin (Sultan Salahuddin, red) dan Pasukan Salib di abad ke-12. Lalu pada September 1260 di bulan suci Ramadan, Ain Jalut kembali jadi medan pertempuran epik antara Mongol dan Mamluk yang menentukan masa depan kawasan itu,” ungkap Joseph Cummins dalam The War Chronicles: From Chariots to Flintlocks.


Maka pada siang itu, 3 September 1360/26 Ramadan Hijriah, Pertempuran Ain Jalut pun dimulai. Kavaleri terdepan Mamluk pimpinan Baybars, bersorak dan membunyikan terompet untuk memprovokasi dan lebih dulu menyerang dengan taktik hit-and-run dari perbukitan ke celah sempit tempat pasukan Mongol berada.



Kitbuqa yang terpancing manuver Baybars dan segera mengejar kavaleri Mamluk sampai ke dataran tinggi. Tak menyadari pasukan utama Mamluk di bawah Sultan Qutuz menghujani mereka dengan panah. Lantas dalam pertempuran alot, pasukan Mongol nyaris mendobrak formasi kepungan dan pasukan sayap kiri Mamluk hampir ditembus.


“Qutuz bertahan dan melempar helmnya ke udara dan berteriak, ‘Wahai Islam!’ dan maju ke formasi pasukan bersama pengawal elitnya. Pasukan Mongol terdesak mundur meski sempat masih bisa mengonsolidasi diri. Sultan Qutuz kembali berteriak tiga kali, ‘Wahai Islam! Wahai Allah limpahkanlah hamba-Mu dan ini kemenangan melawan Mongol’. Membuat serangan balik pasukan Mongol kandas. Setelah pasukan Mongol kabur ke arah Suriah, Qutuz berlutut dan melakukan Sujud Syukur,” tulis Farid Adel dalam The Champions’ of the True Faith.


Hingga kini masih belum diketahui berapa prajurit yang tewas dari kedua belah pihak setelah pertempuran itu dimenangkan Kesultanan Mamluk. Kitbuqa sendiri tertawan dan dieksekusi. Meski kemudian tak lama kemudian dalam perjalanan kembali ke Kairo, ironisnya Sultan Qutuz dibunuh pada 24 Oktober 1260 oleh kelompok persengkongkolan Baybars dan beberapa emir. Baybars sendiri merebut takhta sebagai sultan.*



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Sersan Mayor Tentara Kolonial Jadi Presiden

Sersan Mayor Tentara Kolonial Jadi Presiden

Mobutu Sese Seko, pelajar dan bintara cerdas yang menjalin hubungan dengan CIA lalu menjadi presiden.
Membendung Invasi Mongol di Palestina

Membendung Invasi Mongol di Palestina

Sebelum diusir Majapahit di Jawa, invasi bangsa Mongol juga terhenti di Palestina. Kesultanan Mamluk membendungnya pasca-Salat Jumat di bulan puasa.
Serba-serbi Manfaat Kurma

Serba-serbi Manfaat Kurma

Kurma tidak hanya mengandung nutrisi yang baik bagi tubuh, tanaman ini juga bermanfaat karena tidak ada bagiannya yang terbuang sia-sia.
Kala Sultan Mehmed Memburu Dracula di Bulan Puasa

Kala Sultan Mehmed Memburu Dracula di Bulan Puasa

Murka karena utusannya dibantai dengan bengis, Sultan Mehmed II membalas dengan kekuatan penuh. Walau berhasil kabur, nasib Vlad Dracula berakhir tragis.
Kho Tjoen Gwan dari Jago Kungfu ke Pendekar Pena

Kho Tjoen Gwan dari Jago Kungfu ke Pendekar Pena

Sembari mendalami ilmu kungfu, Kho Tjoen Gwan menjadi jurnalis kritis. Penjara tak membuatnya jera untuk terus mengkritik pemerintah kolonial Belanda.
bottom of page