top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Mengenal Pahlawan Nasional Rahmah El Yunusiyah

HR Rasuna Said turut berguru pada Rahmah El Yunusiyah. Universitas Al-Azhar di Kairo terinspirasi membuka kampus khusus perempuan darinya.

11 Nov 2025

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Lukisan potret Rahmah El Yunusiyah (sumbarprov.go.id)

Diperbarui: 22 Jan

SUMATERA Barat kembali mendapat kehormatan tahun ini. Dari 10 tokoh yang dianugerahi pahlawan nasional usai upacara Hari Pahlawan pada Senin (10/11/2025), satu di antaranya adalah Hj. Rahmah El Yunusiyah, tokoh pelopor pendidikan Islam untuk kaum perempuan.


Pada upacara penganugerahan pahlawan nasional di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11/2025), 10 tokoh dianugerahi pahlawan nasional melalui Keppres No. 116/TK Tahun 2025. Selain Rahmah El Yunusiyah dari Provinsi Sumatera Barat, sembilan figur lainnya adalah KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (Jawa Timur), Jenderal H.M. Soeharto (Jawa Tengah), Marsinah (Jawa Timur), Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja (Jawa Barat), Jenderal (Purn.) Sarwo Edhi Wibowo (Jawa Tengah), Sultan Muhammad Salahuddin (Nusa Tenggara Barat), Syaikhona Muhammad Kholil (Jawa Timur), Tuan Rondahaim Saragih (Sumatera Utara), dan Zainal Abidin Syah (Maluku Utara).


Nama Hj. Rahmah El Yunusiyah sudah diusulkan pemerintah Provinsi Sumatera Barat sejak 2023. Presiden RI Prabowo Subianto menyerahkan anugerah pahlawan nasionalnya secara langsung kepada ahli warisnya. Sebagai ulama dan pejuang kemerdekaan, Rahmah diangerahi pahlawan nasional bidang perjuangan pendidikan Islam.



Para ahli waris dari 10 tokoh yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. (setneg.go.id).
Para ahli waris dari 10 tokoh yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. (setneg.go.id).

Memuliakan Perempuan lewat Pendidikan

Pada medio 1950, Haji Abdul Malik Karim Amrullah alias Hamka tiba di Kairo, Mesir. Apa yang pernah diceritakan ayahnya –Abdul Karim Amrullah alias Haji Rasul yang pernah ke Mesir pada 1925– tentang Mesir begitu nyata di hadapan matanya. Mesir dengan Universitas Al-Azharnya memajukan peradaban Islam dengan pendidikan. Hampir semua tokoh cendekiawan tanah Minang “berkiblat” ke Universitas Al-Azhar.


“Thawalib kalah, Djokja kalah, bahkan Mekkah sendiripun kalah. Mesir yang di atas!” kata Hamka dalam catatan pribadi yang dibukukannya, Tindjauan Dilembah Nil.


Meski begitu, dari banyak pengamatannya, masih ada satu hal yang minus dan “kalah” jika dibandingkan Minangkabau. Di Mesir, bahkan di Universitas Al-Azhar sekalipun, belum ada sekolah atau kampus khusus perempuan untuk memperdalam agama Islam.


“Ketika ia bertemu (para tokoh) organisasi-organisasi perempuan, Hamka membanggakan fakta bahwa Indonesia sudah punya dua menteri dari kalangan perempuan. Hamka juga membanggakan fakta bahwa di Bukittinggi ada sekolah untuk perempuan, Diniyah Puteri yang didirikan dan dipimpin Rahmah el-Junusiyah,” tulis Hairus Salim HS dalam artikel “Indonesian Muslims and Cultural Network” di buku Heirs to World Culture: Being Indonesian, 1950-1965.



Di kalangan ulama dan cendekiawan asal Minang, nama Rahmah El Yunusiyah begitu berkibar. Putri bungsu pasangan Rafi’ah dan Muhammad Yunus al-Khalidiyah bin Imanuddin kelahiran Nagari Bukit Surungan, Padang Panjang pada 26 Oktober 1900 itu satu-satunya perempuan yang mampu mendobrak tradisi dengan mendirikan sekolah khusus perempuan.


“Rahmah adalah anak yang dikenal keras hati dan teguh pendirian, kemauannya pantang dihalangi. Cita-cita Rahman muncul dari kesadaran adanya ketidakadilan yang dialami kaumnya, di samping ketimpangan sosial dalam masyarakatnya. Dia melihat kaumnya jauh tertinggal dari laki-laki. Rahmah melihat ketidaksetaraan kepandaian perempuan disebabkan karena mereka tidak mendapatkan kesempatan belajar yang sama,” ungkap Junaidatul Munawaroh dalam artikel “Rahmah el-Yunusiah: Pelopor Pendidikan Perempuan” di buku Ulama Perempuan Indonesia.


Rahmah mulanya berguru pada ayahnya dan kakaknya, Zainuddin Labai El Yunusi, yang pendiri Diniyah School. Sepeninggal sang kakak dan Diniyah School mengalami kemunduran, Rahmah mengambilalihnya pada 1916. Rahmah bahkan mulai menerima murid perempuan ketika mengajar di surau di Jembatan Besi pada 1918.


“Di antara yang turut belajar pada waktu itu ialah Rasuna Said, Nanisah, dan Upik Japang. Boleh dikatakan bahwa sebelum itu belumlah ada kaum perempuan yang belajar agama, nahwu, dan sharaf, fiqih dan ushul-nya. Sebelum itu kaum perempuan baru belajar dalam pengajian umum, mendengarkan tabligh guru-guru,” tulis Hamka dalam bukunya yang lain, Ayahku: Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera.


Butuh lima tahun bagi Rahmah hinggga dapat mendirikan sekolah khusus perempuan, Diniyah Puteri, pada 1 November 1923. Mulai berubahnya pandangan masyarakat terhadap pentingnya pendidikan perempuan membuat Rahmah sedikit demi sedikit mendapat banyak sumbangan. Utamanya setelah gedung sekolahnya runtuh pasca-gempa bumi pada 1926.


“Ke mana-mana dia berjalan mencari perbantuan kaum Muslimin untuk membangun gedung sekolahnya, karena tempat asrama kawan-kawannya itu telah runtuh. Perhatian kaum Muslimin amat besar atas usahanya itu. Sampai dia mengembara ke Malaya, menemui sultan-sultan Melayu meminta bantuan,” imbuh Hamka.


Rahmah kian menyibukkan diri dengan mengajar dan kegiatan sosial setelah suaminya, Bahauddin Lathif, ditangkap Belanda dan ikut diasingkan ke Boven Digul. dalam Khazanah Ulama Perempuan Nusantara, Nur Hasan menulis Rahmah mengikuti kursus ilmu kebidanan di Kayu Tanam pada 1931. Salah seorang yang membimbingnya adalah Kudi Urai, bidan yang pernah membantu kelahiran Rahmah sendiri dan Sutan Sjahrir.



Untuk memenuhi kebutuhan pendidik sekolahnya, Rahmah pun membuka sekolah guru untuk puteri, Kulliyyatul Mualimat el Islamiyyah, pada 1937. Di era pendudukan Jepang, Rahmah bersama para aktivis perempuan di Anggota Daerah Ibu (ADI), seringkali menuntut pemerintahan militer Jepang untuk menutup rumah-rumah bordil dan penghentian praktik jugun ianfu (wanita penghibur).


Gedung Sekolah Diniyah Puteri sendiri sering dijadikan tempat perawatan rakyat. Gedung yang sama pula jadi tempat bendera merah putih pertamakali dikibarkan di Sumatera Barat pasca-proklamasi kemerdekaan. Di masa revolusi kemerdekaan, Rahmah turut menginisiasi pembentukan unit perbekalan Tentara Keamanan Rakyat di Padang Panjang. Kompleks Diniyah Putri pun jadi dapur umum.


Keterlibatannya itu pula yang membuat Rahmah ikut ditarget Belanda. Pada 7 Januari 1949, pasukan Belanda menangkap Rahmah sebagaimana juga para pemimpin republik di Padang Panjang. Ia dijadikan tahanan rumah di Padang sampai gencatan senjata terjadi hingga ia kembali jadi pengajar.


Ketika Hamka berkunjung ke Mesir pada 1950, kabar mengenai Diniyah Puteri yang didirikan Rahmah menjadi perbincangan di Mesir. Rektor Universitas Al-Azhar Syekh Abdurrahman Taj sampai berkunjung ke Padang Panjang medio 1955 untuk menengok sekolah tersebut.


“Beliau kagum melihat usaha yang besar ini dan mengakui terus terang bahwa Mesir dengan Al Azharnya masih jauh ketinggalan. Perhatian kepada pendidikan dan pengajaran Agama Islam yagn mendalam sebagai Diniyah Puteri itu belum ada di Mesir, apalagi di negeri-negeri Arab yang lain,” terang Hamka.


Universitas Al-Azhar kemudian mengundang Rahmah untuk berbalas kunjungan ke Mesir. Rahmah menjawab undangan itu setelah menunaikan haji pada 1957. Oleh Universitas Al-Azhar, Rahmah diberi gelar “Syekhah”. Universitas Al-Azhar sendiri baru membuka kampus khusus perempuan, Kulliyatul Banat, pada 1962.


“Maka harus diakui bahwa Rahmahlah pelopor kaum perempuan belajar agama sebagai(mana) kaum laki-laki,” tandasnya.*



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Dari Brussel ke Jalan Astrid di Kebun Raya Bogor. Raja dan Ratu Belgia dari berbagai masa punya cerita di Indonesia.
Sudomo Sumber Berita

Sudomo Sumber Berita

Sudomo merupakan pejabat tinggi Orde Baru yang paling sering berurusan dengan wartawan. Pernyataan hingga ocehannya jadi bahan pemberitaan.
Keruntuhan Bisnis Dasaad

Keruntuhan Bisnis Dasaad

Pada masanya, Agus Musin Dasaad mencapai puncak kejayaan bisnis pribumi. Kedekatannya dengan kekuasaan membuka banyak peluang sekaligus risiko. Ketika lanskap politik berubah, bisnisnya pun ikut goyah.
bottom of page