top of page

Menggusur Marhaenis Gadungan

Partai memecat pimpinan dan anggota yang disebut Marhaenis gadungan. Mereka melawan balik setelah Sukarno tumbang.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Pengurus DPP PNI hasil kongres di Solo. Kiri-kanan: Zaini Mansjur, Sumari, I.G.M. Subamia, Manai Sophiaan, Slamet Ginting, S. Hadikoesoemo, M. Isa, Ali Sasrtoamidjojo (ketua umum), Hardi, Mh. Isnaeni, Osa Maliki, Steve Latuihamallo, dan M. Idris. (Repro Banteng Segitiga).

5 Okt 2024
6 menit membaca

Diperbarui: 12 Feb

PADA 7 Juli 1963, PNI merayakan ulang tahun ke-36 di Stadion Utama Senayan. Dalam pidatonya, Ketua Umum PNI Ali Sastroamidjojo menerima Marxisme sebagai sumber Marhaenisme yang diusulkan Sukarno tiga tahun sebelumnya dalam kongres kesembilan di Solo. Definisi “Marhaenisme sebagai Marxisme yang disesuaikan dengan kondisi Indonesia” ini secara resmi diterima dalam kongres kesepuluh PNI pada September 1963 di Purwokerto.  


Setahun kemudian, dalam sidang Badan Pekerja Kongres PNI di Lembang, Bandung pada November 1964, PNI menafsirkan Marxisme sebagai sumber Marhaenisme dalam Deklarasi Marhaenis. Deklarasi ini menyebutkan bahwa “Marhaenisme sebagai suatu faham revolusioner yang berdiri di atas sendi-sendi aksi massa yang bertujuan menegakkan PNI sebagai partai pelopor. Untuk itu, unsur buruh dan petani ditetapkan sebagai soko guru partai dengan tidak mengurangi peranan golongan-golongan progresif lainnya.”

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page