top of page

Menjemput Berkah dari Situs Percandian Muarajambi

Penelitian tentang Muarajambi sudah banyak dilakukan. Namun, bagaimana keberadaannya bisa berdampak bagi masyarakat setempat?

loading_historia_white.gif
transparant.png

Salah seorang juru pelihara tengah membersihkan area Candi Gumpung di Kompleks Percandian Muarajambi. (Dok. Historia)

5 Nov 2020
4 menit membaca

Diperbarui: 18 Jul

KONON, sebelum Islam masuk, di Jambi pernah ada seorang raja yang memerintah bernama Tun Telanai. Dipercaya sang raja bertakhta di kawasan Muaro Jambi sekarang. Masyarakat pun menduga bahwa Percandian Muarajambi yang ada di sana adalah bekas kerajaannya. 


"Sebelum dipugar dipikir ini kerajaan Tun Telanai. Tapi setelah dipugar katanya bukan. Ini Kerajaan Sriwijaya gitu," kata Sulaeman (55), juru pelihara di kawasan Candi Gumpung menerjemahkan cerita yang disampaikan Datuk Ibrahim Akbar (73). Mantan Kepala Desa Muaro Jambi pada era 80-an itu lebih lancar bercakap-cakap dalam bahasa Melayu. 


Kisah Tun Telanai juga dijelaskan oleh Asyhadi Mufsi Sadzali, ketua prodi Arkeologi Universitas Jambi. Kisah ini sangat populer di masyarakat Jambi secara umum. Ceritanya tentang Raja Tun Telanai yang mencoba melamar Putri Pinang Masak, tetapi gagal. 

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page