top of page

Menyuarakan Nasib Nelayan Melalui Lukisan

Lukisan-lukisan karya Itji Tarmizi mengangkat realitas sosial. Dia sempat “dihilangkan” rezim Orde Baru.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Lelang Ikan karya Itji Tarmizi koleksi Istana Negara. (Randy Wirayudha/Historia.ID).

5 Agu 2017
3 menit membaca

Diperbarui: 10 Mei

LUKISAN berjudul “Lelang Ikan” salah satu ikon lukisan koleksi Istana yang dipamerkan di Galeri Nasional Jakarta, 2-30 Agustus 2017. Lukisan terbaik Itji Tarmizi ini menjadi gambar utama di katalog pameran.


Lukisan berukuran 140x195 cm itu menggambarkan seorang tengkulak yang dikelilingi nelayan, seorang ibu berkutang dengan bawahan kain dan anaknya tanpa pakaian kemungkinan istri salah satu nelayan, kuli panggul, hingga nelayan lain di belakang si tengkulak menatap tajam sambil memegang parang. Para nelayan itu seakan pasrah ikan-ikannya dibeli sang tengkulak dengan harga yang tidak diharapkan.


Itji menggambarkan tengkulak itu ditemani anak atau cucunya yang mengenakan pakaian bagus lengkap dengan kalung mutiara. Dia mengenakan peci hitam, berkulit terang, berpakaian ala penguasa tapi juga mengenakan bawahan kain, lengkap dengan ikat pinggang besar.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page