top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Mereka yang Masih Mengenang

Tak banyak lagi yang mengingat peristiwa heroik di Selat Sunda itu. Sekelompok kecil warga Sawu masih mengenangnya setahun sekali.

Oleh :
7 Sep 2024

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Masyarakat Nusa Tenggara Timur melakukan tabur bunga di Pahlawan Kapal Tudjuh di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta Selatan. (Nugroho Sejati/Historia.ID).

  • Aryono
  • 8 Sep 2024
  • 2 menit membaca

HENING di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata Jakarta Selatan pecah pagi itu. Sekira 50 orang dari Ikatan Keluarga Nusa Tenggara Timur yang ada di Jakarta berarak menuju petak E-15. Di sana, di tengah barisan nisan dari pahlawan tak dikenal, terdapat satu makam bersama.

Pada kepala nisan tertulis: Pahlawan Kapal Tudjuh. Pada makam tersebut terdapat 21 kerangka jenasah korban yang gugur di atas kapal Zeven Provincien, 10 Februari 1933.


“Gagasan tabur bunga di makam ini tercetus sejak acara Natal tahun lalu. Dan memang salah satu yang dikuburkan di sini adalah Martin Paradja, yang berasal dari pulau Sawu di NTT. Secara momentum pula, hari ini, 4 Februari, tepat peringatan peristiwa kapal Zeven Provincien,” ujar Jos, salahsatu koordinator acara tabur bunga.



Tino Kawilarang, cucu Josias Kolondam Kawilarang, salah satu pelaku pemberontakan De Zeven Provincien juga turut hadir dalamziarah tersebut. Kepada Historia dia menceritakan peran kakeknya menakhodai kapal perang Angkatan Laut Hindia Belanda itu.


“Beliau itu kan navigator yang baik. Dia berusaha mengemudikan kapal, menghindari karang-karang yang banyak di sekitar pelabuhan Ulehle,” ujar Tino. Josias Kolondam Kawilarang salahsatu korban selamat dari kapal Zeven Provincien. Dia meninggal pada 1960.


Kedua puluh satu nama yang dikubur bersama itu terpatri pada tembok penghormatan yang berdiri tak jauh dari pintu masuk Taman Makam Pahlawan. Sebelum Taman Makam Pahlawan Kalibata dibangun pada 1953, 21 jasad kelasi De Zeven Provincien dimakamkan di Ancol. Namun, karena kawasan tersebut semakin sumpek, Presiden Sukarno memerintahkan pembangunan taman makam pahlawan di Kalibata, Jakarta Selatan. Pada Hari Pahlawan 10 November 1954, Presiden Sukarno meresmikan Taman Makam Pahlawan Kalibata sebagai tempat pemakaman yang baru menggantikan Ancol.



Pada 10 Februari 1958, kerangka para matros De Zeven Provincien turut dipindahkan ke Kalibata. Mereka adalah: Paradja, Gosal, Rumambi, Kuluot, Kesehung, Getinoatu, I Duwan Njoman, Aritonang, Amir, Moh. Basir, Suwandi, Sugino, Sakam, Miskam, Misman, Sukimin, Sukirto, Simun, Sukiran, Jasir dan Kemas Umar.


Kisah De Zeven Provincien sepi dari ingatan. Namun demikian, pemerintah era Sukarno telah memberikan penghargaan berupa gelar perintis kemerdekaan kepada seluruh nama pelaku De Zeven Provincien.


“Kami mendapat surat dari pemerintah berupa sertifikat sebagai perintis kemerdekaan anumerta, tanpa tunjangan. Dan kami mencoba mengajukan nama Josias Kolondam Kawilarang sebagai nama salahsatu kapal perang Indonesia,” kata Tino.


Pada acara itu pula, perwakilan masyarakat NTT berencana mengajukan nama Martin Paradja, menjadi salah satu nama jalan utama di NTT. “Sebab hingga hari ini, nama jalan di sana didominasi nama pahlawan dari luar Nusa Tenggara,” ujar Barnabas Luis Rame, ketua Ikatan Keluarga Masyarakat Sawu Se-Jabodetabek.*


Baca laporan khusus pemberontakan kapal De Zeven Provincien sebagai berikut:




Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Alkisah Masjid Buzancy di Ardennes, Prancis yang dibangun atas permintaan Sultan Salahuddin. Hancur semasa Revolusi Prancis. Kini beralih fungsi jadi sekolah.
Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

God Bless tak mau sembarangan bikin album. Laris bukan tujuan mereka menelurkan album.
Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Tuan Rondahaim melawan Belanda di Simalungun hingga akhir hayatnya. Dia tidak pernah menyerah. Penyakit rajalah yang menghentikan perlawanannya.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
bottom of page