top of page

Mereka yang Masih Mengenang

Tak banyak lagi yang mengingat peristiwa heroik di Selat Sunda itu. Sekelompok kecil warga Sawu masih mengenangnya setahun sekali.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Masyarakat Nusa Tenggara Timur melakukan tabur bunga di Pahlawan Kapal Tudjuh di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta Selatan. (Nugroho Sejati/Historia.ID).

8 Sep 2024
2 menit membaca

Diperbarui: 5 Feb

HENING di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata Jakarta Selatan pecah pagi itu. Sekira 50 orang dari Ikatan Keluarga Nusa Tenggara Timur yang ada di Jakarta berarak menuju petak E-15. Di sana, di tengah barisan nisan dari pahlawan tak dikenal, terdapat satu makam bersama.


Pada kepala nisan tertulis: Pahlawan Kapal Tudjuh. Pada makam tersebut terdapat 21 kerangka jenasah korban yang gugur di atas kapal Zeven Provincien, 10 Februari 1933.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page