top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Niatnya Membuka Jalur Rempah, Pelaut Belanda Nyasar ke Pulau Paskah

Menguak misteri patung-patung raksasa di Pulau Paskah. Pertamakali diamati seorang pelaut Belanda secara tak sengaja ketika hendak membuka jalur rempah.

28 Nov 2025

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Patung-patung raksasa moai di Pulau Paskah (PLOS One)

Diperbarui: 20 Jan

SEJAK pertamakali ditemukan oleh pelaut Belanda tiga abad silam, satu per satu misteri-misteri Pulau Paskah terkuak. Terbaru, para peneliti dari sebuah kampus negeri asal New York menyingkap bahwa ratusan patung raksasa moai yang terdapat pada pulau terpencil di selatan Samudera Pasifik di teritorial terluar Chile itu tidaklah dibuat oleh satu klan atau satu kerajaan saja.


Dari sejumlah penelitian terdahulu, sudah diketahui bahwa patung-patung moai itu dibuat oleh bangsa Rapa Nui yang pernah mendiami Pulau Paskah. Patung-patung moai, baik yang hanya berupa kepala maupun patung-patung utuh, dibuat pada 900 tahun lalu.


Mengutip Daily Mail, Rabu (26/11/2025), riset terbaru itu dilakukan para peneliti dan arkeolog pimpinan Prof. Carl Lipo dari Binghamton University. Risetnya menggunakan teknologi mutakhir, di mana mereka menggunakan drone untuk mengambil sekitar 22 ribu gambar yang lantas disatukan untuk menjadi satu model tiga dimensi.


Hasilnya, didapati sisa-sisa semacam workshop tempat pembuatan dan pemahatan patung yang tersebar di sekitar tambang batu Rano Raraku. Mereka juga menemukan bukti bahwa tambang itu tak dimiliki oleh satu klan atau kerajaan tertentu, melainkan dimiliki bersama oleh beberapa klan yang saling bernegosiasi soal tempat pembuatan patung masing-masing.



“Kami melihat tempat-tempat pemahatan batu yang terpisah dan dimiliki beberapa kelompok klan yang berbeda di sebuah area spesifik. Secara grafisnya Anda bisa melihat dari konstruksinya bahwa ada serangkaian patung yang dibuat di sini, serangkaian patung lain di tempat lain, dan mereka saling berdampingan satu sama lain,” kata Prof. Lipo.


Namun, sejak ditemukannya pulau itu oleh bangsa-bangsa Eropa pada abad ke-18, populasi bangsa Rapa Nui berangsur-angsur menyusut. Penyebabnya karena persebaran penyakit yang dibawa bangsa-bangsa Eropa ketika menjelajahi pulau seluas 163,7 kilometer persegi itu. Lalu, ekspedisi perburuan budak, hingga bangsa Rapa Nui mesti berpindah ke Tahiti dan daratan Chile yang pada 1888 menganeksasi pulau itu.


Tepat 273 tahun sejak pertamakali ditemukan pelaut Belanda Jacob Roggeveen, Pulau Paskah ditetapkan UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia pada 1995.


Model 3D temuan banyak tempat pahat patung moai (PLOS One)
Model 3D temuan banyak tempat pahat patung moai (PLOS One)

Mampir ke Pulau Paskah, Ditangkap di Batavia

Rempah-rempah dari Kepulauan Maluku merupakan komoditas bernilai tinggi yang bikin iri bangsa-bangsa Eropa. Pada awal abad ke-18, “Kepulauan Rempah” itu sudah berada dalam genggaman Kongsi Dagang Belanda VOC, yang menguasai jalur timur.


WIC atau Kongsi Dagang Hindia Barat sebagai rival VOC rupanya mengincar Maluku juga. Menurut Max Quanchi dan John Robson dalam Historical Dictionary of the Discovery and Exploration of the Paficif Islands, atas dasar itulah pada 1721 WIC mengongkosi sebuah ekspedisi pelayaran pimpinan nakhoda Jacob Roggeveen guna membuka rute barat ke Maluku.


“Ia pelaut Belanda yang sebelumnya bekerja untuk VOC dan kembali ke Belanda dan mempromosikan sebuah rencana pelayaran komersial dan penjelajahan ilmu pengetahuan ke Pasifik. Perjalanannya disponsori WIC yang sejak lama ingin menembus penguasaan perdagangan rempah-rempah yang selama ini dikuasai VOC,” tulis Quanchi dan Robson.



Selain membuka jalur perdagangan rempah via rute barat, misi ekspedisi ilmu pengetahuannya adalah untuk menemukan Davis Land dan Terra Australis Incognita. Davis Land adalah sebuah pulau yang dipercaya tereletak di Samudera Pasifik sebagaimana laporan perompak bernama Edward Davis pada 1687. Sedangkan Terra Australis adalah daratan besar di selatan bumi yang sejak abad ke-15 dipercaya eksis dan terdapat dalam beberapa peta kuno. Davis Land hingga kini dianggap khayalan belaka, sementara Terra Australis ternyata daratan Benua Antarktika.


Roggeveen berlayar dengan membawa 223 kru yang terbagi di tiga kapal: Arend, Thienhoven, dan Afrikaansche Galey yang bertindak sebagai kapal komando. Mereka berangkat pada 1 Agustus 1721 dari Pulau Texel dengan rute ke selatan Samudera Pasifik.


Menurat Ronald S. Love dalam Maritime Exploration in the Age of Discovery, 1415-1800, armada kecil Roggeveen mulanya melewati Kepulauan Falkland lantas menuju Selat Le Maire agar lebih mudah mengitari Cape Horn. Dengan melihat gunung-gunung es, arus samudera, dan kawanan burung sepanjang pelayaran, Roggeveen percaya Terra Australis itu eksis dan daratannya saling menyambung hingga Kutub Selatan.


“Dari (Cape Horn) sana ia mengubah arah ke utara menuju Kepulauan Juan Fernández lebih dulu guna mendapatkan suplai tambahan untuk pelayarannya, sebelum kembali berlayar ke arah selatan. Justru di sinilah kemudian ia menemukan pulau yang ia namai Pulau Paskah,” tulis Love.



Sebelumnya, pulau itu tak eksis di peta-peta penjelajah Eropa manapun. Ketika tiba, Roggeveen memetakan dan menamainya Paasch-Eyland (Pulau Paskah) karena ia menemukannya tepat pada Minggu Paskah, 5 April 1722. Menurut catatan Roggeveen, ketika itu Pulau Paskah didiami sekitar 2.500 jiwa bangsa Rapa Nui. Satu hal yang pasti, ia meyakini pulau itu bukanlah Davis Land yang selama ini dicari-carinya karena kondisi alamnya berbeda dari beberapa catatan tentang Davis Land.


“Pulau Paskah itu bukan pantai berpasir seperti yang digambarkan (Edward) Davis. Pulau itu justru memiliki tebing-tebing tinggi seperti menara di atas permukaan laut. Di pulaunya sendiri sangat jarang pepohonan namun punya tanah subur yang ditanami pisang, kentang, dan tebu,” kata Roggeveen dalam catatannya yang dikutip William Judah Thomson dalam Te Pito Te Henua, Or Easter Island.


Saat mengetahui kedatangan rombongan Roggeveen, orang-orang Rapa Nui mendatangi mereka dengan perahu-perahu kano. Dengan komunikasi seadanya, Roggeveen merasa aman untuk mengirim 134 krunya ke daratan dengan lima perahu. Namun di pulau sempat terjadi ketegangan yang berujung serangan. Pasukan pelaut Belanda melepaskan tembakan yang menewaskan selusin orang pribumi dan membuat kabur sisanya.


Jalur ekspedisi armada kecil Jacob Roggeveen (Carl Friedrich Behrens's maps)
Jalur ekspedisi armada kecil Jacob Roggeveen (Carl Friedrich Behrens's maps)

Semakin masuk ke dalam pulau, pasukan pelaut Belanda itu seperti melihat banyak patung. Karena tidak berani mendekatinya, mereka hanya mengamati dari jauh.


“Patung-patung itu sepertinya terbuat dari tanah lihat dan batu-batu halus yang dipasang sangat rapat dan rapi sehingga membentuk sosok manusia. Terlihat sedikit tonjolan yang menjuntai ke bawah dari bahu yang membentuk lengan. Mereka dikenakan jubah panjang dari leher hingga telapak kaki. Di kepala mereka ditempatkan keranjang berisi batu-batu putih,” terang Roggeveen.


Mereka pun kembali ke kapal-kapal mereka dan berlayar lagi ke arah barat. Roggeveen sempat sial karena kapal komandonya, Afrikaansche Galey, hancur akibat menabrak karang di Atol Takapoto. Keadaan di dua kapal yang tersisa pun kian gawat karena banyak krunya yang kena penyakit kudis.



“Roggeveen memutuskan kembali ke Belanda namun hanya bisa melalui jalur teraman berlayar terus ke barat menembus wilayah eksklusif VOC. Setibanya Arend dan Thienhoven di Batavia (September 1722, red.), mereka ditangkap VOC,” ungkap Steven Roger Fischer dalam Island at the End of the World: The Turbulent History of Easter Island.


Roggeveen dan para krunya ditahan atas perintah Gubernur Jenderal Hendrick Zwaardecroon. Mereka didakwa dengan pelanggaran hak istimewa lantaran Roggeveen masuk ke wilayah eksklusif VOC tanpa izin. Kedua kapal dan isi kargo-kargonya disita.


“Roggeveen dan para awaknya dipulangkan sebagai tahanan ke Belanda dengan kapal VOC. Sesampainya di Belanda, mereka dibebaskan dan setelah perdebatan dan penyelidikan yang panjang, VOC bersedia memberi kompensasi kepada WIC, baik untuk dua kapal yang disita maupun menalangi gaji para krunya. Sejak saat itu, para pelaut Belanda tak lagi tertarik menjelajahi Pasifik dan memilih berkonsentrasi dengan aktivitas-aktivitas kawasan semata di ‘Kepulauan Rempah’ dan VOC di Batavia,” tandas Fischer.*



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Dari Brussel ke Jalan Astrid di Kebun Raya Bogor. Raja dan Ratu Belgia dari berbagai masa punya cerita di Indonesia.
Sudomo Sumber Berita

Sudomo Sumber Berita

Sudomo merupakan pejabat tinggi Orde Baru yang paling sering berurusan dengan wartawan. Pernyataan hingga ocehannya jadi bahan pemberitaan.
Keruntuhan Bisnis Dasaad

Keruntuhan Bisnis Dasaad

Pada masanya, Agus Musin Dasaad mencapai puncak kejayaan bisnis pribumi. Kedekatannya dengan kekuasaan membuka banyak peluang sekaligus risiko. Ketika lanskap politik berubah, bisnisnya pun ikut goyah.
bottom of page