top of page

Pangeran Siam di Lintasan F1

Thailand berharap bisa jadi tuan rumah ajang F1 pada 2028. Demi memperkaya relasi sejarah Siam dan F1 yang pertamakali ditorehkan oleh Pangeran Bira.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Pangeran Birabongse Bhanudej usai menang Imperial Trophy Race 1937 di Sirkuit Crystal Palace (nationaalarchief.nl)

1 menit yang lalu
4 menit membaca

PEMBALAP asal Thailand Alexander Philippe Albon Ansusinha amat berharap bisa memacu jet darat Formula One (F1) pada grand prix di tanah airnya. Maka ketika negeri yang dahulu bernama Siam itu mengajukan masuk kalender F1, Albon jadi pendukung utamanya.


Albon, begitu sapaannya, merupakan blasteran Inggris-Thailand kelahiran London, 23 Maret 1996 dari pasutri Nigel Albon dan Kankamol Ansusinha. Sudah sejak 2019 Albon menembus pentas F1 dan di musim ini, Albon masih berkibar bersama tim Atlassian Williams.


“Dengan senang hati saya bisa katakan bahwa saya sudah punya dua race kandang, tiada lain Singapura dan Malaysia. Tentu pada akhirnya, cita-cita saya punya tiga, yang sudah pasti adalah Thailand,” kata Albon, dikutip Times of India, 4 Oktober 2026.


Untuk sementara –sebagai satu-satunya pembalap asal Asia Tenggara di F1– Albon hanya bisa menganggap Grand Prix Sepang, Malaysia dan Grand Prix Marina Bay, Singapura sebagai dua race kandangnya. Apalagi ia sangat bisa merasakan dukungan besar dari dua negara itu berkat atmosfer “SEAblings” atau persaudaraan sesama orang Asia Tenggara.


“Secara umum para fans Asia Tenggara begitu mencintai saya dan saya beruntung untuk itu. Saya melihat kelompok masyarakat Asia Tenggara sudah seperti satu keluarga besar dalam banyak hal. Malaysia utamanya, di mana saya merasa Malaysia dan Thailand punya hubungan yang sangat kuat,” tambahnya.


Thailand – dengan didukung pemerintah maupun kerajaan– sudah mulai mengajukan diri sejak medio 2025. Mereka berharap besar bisa masuk ke kalender musim F1 mulai 2028 hingga 2032. Dukungan pemerintah dibuktikan dengan kucuran anggaran sebesar 1,23 miliar dolar Amerika Serikat (AS) untuk menyokong pengajuannya sebagai tuan rumah asal Asia Tenggara ketiga di kalender F1. Adapun lintasan yang diajukan berupa balapan jalanan di Bangkok, sebagaimana Grand Prix Marina Bay di Singapura.


“Dalam dua atau tiga tahun lagi, Thailand akan punya perlombaan berkelas dunia, yang sebelumnya tak pernah kami mimpikan bisa terjadi di Thailand,” ujar Jirayu Houngsub, juru bicara pemerintah Thailand, dilansir ESPN, 17 Juni 2025.


Balapan jalanan F1 itu treknya punya jarak sekitar 5,7 kilometer. Merentang dari Stasiun Terminal Pusat Krung Thep Aphiwat sampai Taman Chatuchak. Tak disebutkan mengapa balapan jalanan yang diajukan meskipun Thailand punya lima sirkuit permanen: Nakhon Pathom, Kaeng Krachan, Chiangrai Raceway Maelao, Buriram –yang sudah masuk ke kalender balapan motor World Superbike dan MotoGP, serta Sirkuit Bira.


Sirkuit terakhir mengabadikan nama seorang anggota kerajaan yang jadi pembalap F1 sejak kontes balapan bergengsi dunia itu start pada 1950, Pangeran Birabongse Bhanudej. Pangeran Bira tercatat jadi pembalap Asia Tenggara pertama yang mentas di F1 (1950-1954). Kiprahnya kemudian diikuti Alex Yoong asal Malaysia (musim 2001 dan 2002), dan Alex Albon (2019-sekarang).


Alexander Philippe Albon Ansusinha bersama para fans Singapura pada F1GP Marina Bay 2026 (alexalbon.com)
Alexander Philippe Albon Ansusinha bersama para fans Singapura pada F1GP Marina Bay 2026 (alexalbon.com)

Lintasan Kehidupan Sang Pangeran

Jika pernah menonton film garapan Hollywood, Anna and the King (1999), terdapat karakter sang raja Siam yang diperankan aktor China, Chow Yun-fat. Karakternya bernama Raja Mongkut, yang menggambarkan sosok penguasa Siam periode 1851-1868. Nah, Pangeran Bira adalah cucu dari Raja Mongkut dari garis ayahnya, Pangeran Bhanurangsi Savangwongse. Ia anak bungsu Raja Mongkut dari permaisuri keduanya, Debsirindra.


Sebagai anggota keluarga Kerajaan Siam, Pangeran Bira lahir di Istana Phra Borom Maha Ratcha Wang di Krung Thep (kini Bangkok) pada 15 Juli 1914. Bira adalah putra keempat Pangeran Bhanurangsi Savangwongse dengan istri kelimanya, Lek Yongchaiyudh.


Sebagaimana para sepupunya, Pangeran Bira dikirim sekolah ke Eton College di Inggris sejak usia 13 tahun dan “menumpang” dengan kerabat kerajaan yang jadi walinya selama di Inggris, Pangeran Chula Chakrabongse. Dari Pangeran Chula pula Bira mulai mengenal balapan mobil pada 1935.


“Karier balapannya dimulai pada pertengahan 1930-an. Di musim semi 1935, ia mengikuti sebuah balapan bergengsi di Sirkuit Brooklands, mengendarai (mobil) modifikasi Riley Imp. Sejak awal bakatnya sudah luar biasa. Ketika ia membeli mobil balap ERA 1500cc pada hari ulang tahunnya yang ke-21, ia kemudian jadi rising star di beberapa ajang balapan,” tulis Miroslav Nožina dalam Siam Undiscovered: Czech-Thai Encounters Between the 16th and 21th Centuries.


Pangeran Bira dengan mobil Maserati 4CLT-48 di Grand Prix Zandvoort 1948 (nationaalacief.nl)
Pangeran Bira dengan mobil Maserati 4CLT-48 di Grand Prix Zandvoort 1948 (nationaalacief.nl)

Namun Bira harus menepi sementara ketika Perang Dunia (1939-1945) pecah. Karena juga punya ketertarikan besar pada dunia penerbangan, Bira ikut belajar terbang bersama Angkatan Udara Inggris, RAF. Setelah lulus, Bira jadi instruktur pilot glider di Pangkalan Udara St Merryn yang merupakan pangkalan untuk patroli udara Angkatan Laut Inggris.


“Selebihnya mereka menghabiskan waktu di Tredethy di rumah besar milik Chula, di mana Bira bersama Chula, dua sepupu lain dan para istri muda mereka, membincangkan dan memimpikan masa damai dan dunia balap. Meskipun setelah perang Bira berpisah dan tidak akur dengan Chula namun Chulalah yang pernah menulis buku tentang kehebatan Bira sebelum perang yang membuat nama Bira jadi tenar,” ungkap Anthony Meredith dan Gordon Blackwell dalam Silverstone’s First Grand Prix: 1948 the Race on the Runways.


Usai perang, Bira kembali meneruskan gairahnya terhadap ajang balapan mobil. Ia tercatat jadi kampiun di ajang Ulster Trophy 1946, Grand Prix des Frontières ke-17 pada 1947, serta Stockholm Grand Prix dan Zandvoort Grand Prix ke-1 pada 1948.


Sementara mulai 1949, Pangeran Bira memilih bergabung ke dalam sebuah tim balap asal Swiss, Scuderia Enrico Platé dan meraih sejumlah raihan podium dengan mobil Maserati 4CLT. Ia balapan dengan menyandang nama “B Bira” tanpa embel-embel gelar kerajaannya.


“Saat balapan mobil sudah mulai profesional, Bira sudah jadi pembalap kontrak. Chula tak menyukainya karena ia sudah berusaha keras melakukan pengadaan mobil Alfa Romeo Grand Prix untuk mempertahankan tim White Mouse miliknya. Maka sejak 1949 mereka sudah tak bersama lagi,” imbuh Meredith dan Blackwell.


Pangeran Bira memacu mobil Maserati 250F di lintasan F1 pada GP Prancis 1954 (maserati-alfieri.co.uk)
Pangeran Bira memacu mobil Maserati 250F di lintasan F1 pada GP Prancis 1954 (maserati-alfieri.co.uk)

Maka ketika tim Scuderia Enrico Platé masuk ke ajang F1 dengan pembukaan perdananya di Sirkuit Silverstone pada 13 Mei 1950, Bira dan rekan setimnya, Toulo de Graffenried, diikutsertakan Scuderia Enrico Platé mengendarai mobil Maserati 4CLT/48. Namun meski di sesi kualifikasi Bira mampu finis urutan kelima, pada sesi balapnya Bira hanya mampu finis urutan ke-21.


Di musim perdana F1 1950, Bira hanya tercatat punya finis terbaik di posisi keempat pada Grand Prix Swiss, 4 Juni 1950. Hasil yang sama pernah ia capai lagi pada musim 1954 di Grand Prix Prancis, 4 Juli 1954.


Bira menutup buku kariernya di dunia balap mobil pada 1955. Namun ia tetap berkecimpung di dunia olahraga. Ia bahkan ikut dalam kontingen Thailand sebagai atlet cabang layar di Olimpiade Melbourne 1956, Olimpiade Tokyo 1964, dan Olimpiade Munich 1972.


Pangeran Bira wafat di London karena serangan jantung pada 23 Desember 1985 di usia 71 tahun. Jenazahnya dikremasi di Wihara Wat Buddhapadipa di Wimbledon setelah dilakukan prosesi keagamaan Buddha. Sebagai bentuk penghormatan, ketika sebuah sirkuit selesai dibangun pada 1986 di Pattaya kemudian dinamai untuk mengabadikan namanya, Sirkuit Bira.




Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi kepala polisi wilayah Banyumas pada awal kemerdekaan. Dekat dengan anak buah, Gatot berhasil memimpin pasukan dalam pertempuran Ambarawa.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi tentara Belanda ditentang sang ayah karena tidak ingin anaknya menjadi penindas bangsanya. Dia membuktikan diri sebagai tentara yang peduli kaum lemah hingga dicap sersan gila oleh atasannya.
bg-gray.jpg
Ikut dikirim ke Ambon, Gatot Soebroto dikira keluarganya sudah mati. Masa Pendudukan Jepang membuatnya “menukar” seragam dari KNIL ke PETA.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s long journey to fight for justice for women came to a halt during the Japanese occupation.
Thailand berharap bisa jadi tuan rumah ajang F1 pada 2028. Demi memperkaya relasi sejarah Siam dan F1 yang pertamakali ditorehkan oleh Pangeran Bira.
Thailand berharap bisa jadi tuan rumah ajang F1 pada 2028. Demi memperkaya relasi sejarah Siam dan F1 yang pertamakali ditorehkan oleh Pangeran Bira.
Georgia jadi debutan di Piala Eropa 2024 dan berpotensi jadi tim kejutan. Seperti apa gerangan mulanya sepakbola di Tanah Kartvelia itu?
Georgia jadi debutan di Piala Eropa 2024 dan berpotensi jadi tim kejutan. Seperti apa gerangan mulanya sepakbola di Tanah Kartvelia itu?
Sejarah mencatat raket Christian Hadinata dkk. pernah menyabet emas olimpiade 20 tahun sebelum Susi Susanti.
Sejarah mencatat raket Christian Hadinata dkk. pernah menyabet emas olimpiade 20 tahun sebelum Susi Susanti.
Jatuh-bangun menghadapi masalah keluarga lewat pergulatan batin. Menyajikan romantisme keluarga. (Tulisan mengandung beberan cerita).
Jatuh-bangun menghadapi masalah keluarga lewat pergulatan batin. Menyajikan romantisme keluarga. (Tulisan mengandung beberan cerita).
Elon Musk memimpikan ekplorasi ke Uranus. Planet terdingin ini sudah diamati sejak zaman Yunani Kuno dan mulanya dianggap bintang.
Elon Musk memimpikan ekplorasi ke Uranus. Planet terdingin ini sudah diamati sejak zaman Yunani Kuno dan mulanya dianggap bintang.
Upaya tolak bala dan ucap syukur suku Osing. Kenduri massal di depan rumah dengan hidangan khas Tumpeng Sewu.
Upaya tolak bala dan ucap syukur suku Osing. Kenduri massal di depan rumah dengan hidangan khas Tumpeng Sewu.
transparant.png
bottom of page