- 15 Jul 2025
- 3 menit membaca
Diperbarui: 21 Mar
PADA masa kolonial Belanda, kegiatan pencak silat mendapat kekangan. Hal ini karena perguruan pencak silat terlibat dalam perlawanan terhadap pemerintah kolonial. Pada 1930, misalnya, Perguruan Pencak Silat Sekar Pakuan yang didirikan di Bandung memiliki motto “berlatihlah hingga berani melawan Belanda”.
Motto tersebut kemungkinan terinspirasi oleh perlawanan Haji Hasan Arif, pemimpin pesantren dan perguruan silat, terhadap Belanda di Cimareme, Garut.
“Pada 1918, Perguruan Pencak Silat Siwarame, yang dipimpin oleh Haji Hasan Arif, sempat memimpin perlawanan singkat terhadap Belanda di Cimareme, Garut. Setelah menolak menyerahkan sebagian hasil panen padinya kepada pejabat setempat, Haji Hasan dan dua anggota keluarganya terbunuh dalam bentrok senjata,” tulis Ian Douglas Wilson dalam Politik Tenaga Dalam: Praktik Pencak Silat di Jawa Barat.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















