top of page

Petaka Tempe Bongkrek

Makanan rakyat miskin di masa krisis. ­Menjadi petaka ketika mengeluarkan racun.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Penduduk sebuah desa di Banyumas pada 1931. (Tropenmuseum/Wikimedia Commons).

30 Mei 2020
2 menit membaca

Diperbarui: 21 Feb

JIKA pernah membaca novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari atau menonton film adaptasinya Sang Penari, tempe bongkrek barangkali sudah tak asing lagi. Makanan inilah yang menyebabkan orang-orang Dukuh Paruk beserta ronggengnya keracunan hingga meninggal. Kejadian itu juga mengawali kisah Srintil, anak pembuat tempe bongkrek, yang menjadi ronggeng di kemudian hari.


Tempe bongkrek merupakan makanan yang populer di tempat asalnya, Banyumas, Jawa Tengah. Tak seperti tempe biasa, tempe bongkrek terbuat dari campuran kedelai dan ampas atau bungkil kelapa yang kemudian difermentasi. Karena murah, tempe bongkrek menjadi salah satu makanan yang digemari masyarakat.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page