- 6 Mei 2025
- 4 menit membaca
Diperbarui: 5 Mei
LETJEN KKO (Purn.) Ali Sadikin, mantan gubernur DKI Jakarta periode 1966—1977, emosi dengan menggedor-gedor pintu kantor fraksi anggota DPR. Tak satupun anggota dewan yang terhormat itu berani menunjukkan batang hidung. Hingga Wakil Ketua DPR Mayjen TNI Kartidjo akhirnya bersedia menerima Bang Ali dan kawan-kawan.
Hari itu, 13 Mei 1980, sejumlah jenderal purnawirawan dan tokoh sipil menuntut audiensi terhadap anggota DPR atas kepemimpinan Presiden Soeharto. Mereka hendak menyampaikan ungkapan keprihatinan atas pidato tanpa teks yang disampaikan Presiden Soeharto beberapa waktu sebelumnya. Mohammad Natsir, tokoh Partai Masjumi, tampil sebagai juru bicara utama delegasi dalam pertemuan dengan Wakil Ketua DPR Kartidjo.
“Bagi seorang presiden, pidato lisan atau tertulis sama nilainya di mata masyarakat. Kami ingin bertanya apa maksud pidato itu,” kata Natsir seperti dituturkan ulang A.M Fatwa dalam Autobiografi A.M. Fatwa: Untuk Demokrasi dan Keadilan.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















