- 18 Jun 2025
- 3 menit membaca
SEBUAH pertemuan diadakan di sebuah bioskop di Padang, Sumatra Barat pada 1 April 1923. Wakil-wakil dari organisasi besar macam serikat buruh kereta trem, Vereniging van Spoor-en Tramwegpersoneel (VSTP), dan organisasi kepanduan macam Nederlands-Indische Padvinders (NIP) dan organisasi-organisasi lainnya hadir di sana. Salah satu pembicara di sana rupanya dicap sangat berani oleh pemerintah kolonial.
“Orang Minangkabau masih berpegang teguh pada adat mereka, yang mereka akui sebagai satu-satunya yang benar, dan meskipun ada pelekat pandjang (kesepakatan antara pemerintah dan orang Minangkabau), adat itu telah dirobek dengan ujung sangkur,” kata Sutan Said Ali, si pembicara berani itu.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












