top of page

Kisah “Konflik” Benny Moerdani-M. Jusuf

Benny Moerdani dituduh bermusuhan dengan M. Jusuf. Ada Soeharto di antara keduanya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Jenderal TNI M. Jusuf sedang meninjau asrama prajurit. (Repro Panglima Para Prajurit).

20 Jun 2025
4 menit membaca

Diperbarui: 25 Jul

PADA 30 Maret 1981, Ambon dijadikan tempat perhelatan commanders call ABRI. Panglima ABRI (Pangab) Jenderal TNI M. Jusuf tentu hadir di sana. Begitu pula jenderal-jenderal lain yang menjadi asisten panglima.

 

Namun, commanders call itu menjadi tidak lancar. Pada hari itu, kabar terjadinya pembajakan pesawat “Woyla” milik Garuda Indonesia, yang digiring pembajak ke Bangkok, sampai ke telinga para petinggi ABRI di Ambon. Semua pun dibuat khawatir, tak terkecuali Letnan Jenderal TNI Leonardus Benyamin Moerdani alias Benny Moerdani selaku As-Intel panglima ABRI.

 

Letjen Benny sejatinya akan menyampaikan analisis dan evaluasi situasi keamanan nasional dalam acara itu. Namun, mau tak mau Benny tak bisa seharian berada di Ambon. Benny harus mengawasi penanganan kasus pembajakan tersebut.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page