- 14 Sep 2021
- 3 menit membaca
Diperbarui: 1 Apr
MENGENAKAN baju safari warna gelap, Letnan Jenderal Benny Moerdani memasuki pesawat Garuda DC-9 “Woyla”. Serbuan gerak cepat dari pasukan elite anti-teror Kopassandha baru saja mengakhiri aksi pembajakan pesawat yang dilakukan teroris dari kelompok Jamaah Imran. Setelah melakukan pengecekan di sana-sini, Benny memberi isyarat “Oke” lalu turun dari tangga pesawat. Seluruh pasukan komando itupun meninggalkan lokasi.
“Pasukan komando diangkut dengan bis menuju hanggar Angkatan Udara Muangthai, dan segera masuk ke dalam pesawat DC-10 ‘Sumatra’ yang sedang parkir sejauh lima kilometer dari lokasi penyerbuan,” demikian berita Sinar Harapan, 2 April 1981.
Begitulah suasana setelah drama pembajakan pesawat Garuda “Woyla” berakhir pada 31 Maret 1981. Pesawat itu dibajak pada 28 Maret dalam penerbangan dari Jakarta menuju Medan, transit di Palembang, kemudian tertahan di Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand. Kendati sempat terjadi baku tembak, operasi anti-teror itu berlangsung hanya kurang dari tiga menit.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















