- 11 Feb 2023
- 3 menit membaca
Diperbarui: 3 hari yang lalu
BANYAK anak muda ingin menjadi polisi. Orang tuanya bahkan sampai menjual sawah. Mereka menganggap menjadi polisi sebagai jalan menuju hidup sejahtera. Sekarang mungkin ada benarnya. Namun, dulu tahun 1950-an, Inspektur Polisi Slamet Sarojo merasa hidup mengabdi kepada negara sebagai polisi tidak sejahtera.
Slamet Sarojo lahir di Solo, Jawa Tengah, 21 November 1930. Anak mantri kehutanan ini menjadi sersan dalam Tentara Pelajar Brigade 17 pada masa revolusi kemerdekaan. Setelah revolusi, ia bersama Anton Sudjarwo masuk Akademi Kepolisian di Sukabumi.
Namun, pada pertengahan era 1950-an, Slamet memutuskan keluar dari kepolisian untuk berbisnis agar hidup lebih layak. Sementara Anton Sudjarwo kemudian menjadi Kepala Staf Kapolri (1982-1986).
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















