- 31 Mei 2023
- 2 menit membaca
Diperbarui: 12 Jul
ZAMAN pendudukan Jepang agaknya memberi kesempatan emas pada Soegiono Mangoenwijoto untuk berdarma bakti kepada bangsa. Oleh karenanya, alih-alih menjadi guru seperti ayahnya, pria kelahiran Ponjong, Gunung Kidul, 12 Agustus 1926 ini memilih jadi tentara, profesi yang digandrungi banyak pemuda di masanya. Ia pun masuk tentara sukarela Pembela Tanah Air (PETA) sebagai budancho (komandan regu) yang setara sersan.
Pilihan Soegiono tepat. Hanya berbilang satu-dua tahun setelahnya, Indonesia merdeka. Pengalaman Soegiono pun dibutuhkan bangsa untuk mempertahankan kemerdekaannya. Soegiono tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk bergabung dengan badan perjuangan.
“Sejak tanggal 31 Agustus 1945 ditunjuk sebagai Komandan seksi BKR di Yogyakarta. Pada tanggal 5 Oktober 1945, dengan pangkat Letnan Dua,” catat Pusjarah ABRI dalam Biografi Pahlawan Nasional dari Lingkungan ABRI.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















