- Ardhiatama Purnama Aji
- 18 jam yang lalu
- 6 menit membaca
“Anything less than US control of Greenland is unacceptable.” Pernyataan tegas itu meluncur dari bibir Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 15 Januari 2026. Pulau es terbesar di dunia, yang secara hukum masih milik Denmark, tiba-tiba menjadi pusat ketegangan diplomatik baru. Trump bahkan tidak menampik kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk merebut Greenland, sebagaimana dilaporkan The Guardian, 7 Januari 2026.
Pernyataan Trump memicu kegemparan. Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen menegaskan bahwa rakyat Greenland ogah menjadi bagian dari Amerika Serikat dan ingin terus di bawah Kerajaan Denmark. Namun, Trump tetap ngotot. “Kita membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional,” ujarnya di Gedung Putih, dikutip CNN, 14 Januari 2026.
Ini bukan kali pertama AS mengincar Greenland. Sejarah panjang tarik-ulur kekuasaan atas pulau beku itu telah berlangsung berabad-abad. Posisi geografisnya yang strategis dan kekayaan alamnya yang melimpah telah memikat kekuatan-kekuatan dunia untuk menancapkan kaki di sana.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












