- Petrik Matanasi
- 3 jam yang lalu
- 2 menit membaca
PULUHAN tahun silam, Larantuka pernah menjadi bahan berita yang memilukan Indonesia. Gempa melanda Larantuka dua minggu sebelum Natal, pada 12 Desember 1992. Sekitar 2.500 orang meninggal dunia. Band asal Surabaya yang pecahan dari AKA, yakni menamakan SAS, lalu mengabadikannya lewat lagu apik dengan judul "Larantuka". Belakangan, band asal Surabaya lain yang lebih junior juga membawakan lagu apik tersebut.
Terlepas dari gempa tadi, Larantuka punya sejarah menarik. Larantuka adalah salah satu kerajaan Kristen di Indonesia. Kemunculannya punya kaitan dengan pengaruh Portugis yang kuat di sana, meski kemudian Belanda yang mendominasi. Dalam Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Nusa Tenggara Timur, Koehuan dkk. menyebut pada 20 April 1859 Portugis menyerahkan wilayah Flores, termasuk Larantuka, kepada Belanda.
Kerajaan Larantuka pernah dipimpin oleh Don Lorenzo Dias Viera Godinho alias Don Lorenzo II. Menurut Karel Steenbrink dalam Catholics in Indonesia, 1808-1942: A Documented History, Belanda tak mengakuinya sebagai raja meski dia tetap dianggap raja oleh rakyatnya.
Don Lorenzo II punya pembantu yang masih terhitung sepupu, yakni Louis Balantran de Rosario. Sepupu tersebut adalah putra dari Catherine Diaz Viera Godinho, saudari ayah Don Lorenzo II. Louis diberi jabatan sebagai wakil raja ketika masih muda.
Louis muda suatu hari berselisih dengan istrinya. Perselihan itu memicu sebuah bedil menyalak. Bedil yang menyalak itu melukai istrinya hingga meninggal. Koran Algemeene Handelsblad tanggal 12 September 1904 memberitakan, Louis kemudian dihukum atas tindakannya itu dengan diasingkan di Kupang.
Louis kembali ke Larantuka usai menjalani hukuman. Dia lalu menjadi tukang jahit. Langganannya para pejabat setempat.
Pada pertengahan 1904, Don Lorenzo II dianggap Belanda sebagai biang kerok kerusuhan. Pemerintah kolonial lalu menangkapnya.
“Pada tanggal 1 Juli, saya mengirim Raja Larantuka Don Lorenzo sebagai tahanan ke Kupang,” kata residen Timor di koran Het Vaderland tanggal 29 Agustus 1904.
Don Lorenzo II tak hanya ditahan di Kupang tapi juga dibuang ke Yogyakarta. Anaknya, Servus Dias Viera Godinho, juga ikut ke Jawa dan dididik secara kristen di sana. Dia pernah bersekolah di Surabaya.
Kekosongan kekuasaan itu membuat Louis harus berhenti menjadi tukang jahit. Maka dilantiklah Louis menjadi raja Larantuka. Dia lalu dikenal sebagai Don Louis.
Sulit bagi raja di wilayah Hindia Belanda menolak kuasa dari pemerintah kolonial. Seperti nyaris kebanyakan raja lain di masanya, Don Louis pun menandatangani Korte Verklaring (Kontrak Pendek) yang menguatkan kuasa pemerintah kolonial. Kekuasaan Belanda di Larantuka pun menjadi lebih kuat.
Namun raja yang mantan tahanan dan tukang jahit itu tidak lama bertakhta. Pada 1906 dia meninggal dunia dan digantikan Joan Balantran de Rosario. Pada 1910, Don Lorenzo II di Yogyakarta meninggal dunia. Sementara, Joan juga tak lama memerintah, hanya memerintah hingga 1912 . Maka putra Don Lorenzo, Johannes Servus, kemudian naik menjadi raja.
Seperti Don Louis, Don Servus pun menandatangani kontrak yang sama, demi menjaga dominasi pemerintah Hindia Belanda di sana. Namun orang-orang Belanda yang membatasi kekuasaan Don Servus masih mengeluhkan dirinya. Het Vaderland tanggal 10 Februari 1915 menyebut dirinya pemabuk dan gemar mencari hiburan dari perempuan. Orang Belanda merasa aneh dengan pria yang dididik misi Kristen namun dekat dengan dunia maksiat. Dia menjadi raja pada usia 21 tahun dan dianggap tidak cakap dan tidak berprinsip.*













Komentar