top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Wisata Kuliner di Tengah Perang

Prajurit TNI yang bergerilya dalam Perang Kemerdekaan kerap mendapat makanan dari rakyat. Namun, kalau sedang apes, ada yang kehabisan lauk atau tidak bisa menikmati santapan yang disajikan.

22 Sep 2024

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Masyarakat Karo menyambut Sultan Hamengkubuwono IX dengan tarian tradisional pada September 1949. (Gahetna).

PASUKAN Kompi III Batalion XV yang dipimpin Letnan Raja Sjahanan menyingkir ke Kampung Tanjung setelah bertempur dengan tentara Belanda di Kampung Seberaya, Tanah Karo. Pasukan ini berada di bawah Resimen I pimpinan Mayor Djamin Gintings. Saat itu, Belanda baru saja melancarkan agresi militer pertama, Juli 1947.


“Malam itu, komando kita dan satu seksi bermalam di Kampung Tanjung, yaitu kampung di pinggiran timur dari Kampung Bulan Jahe untuk memperoleh keadaan dan situasi yang lebih tenang, jauh dari pertempuran siangnya, sedang seksi-seksi yang lain ada yang bermalam di Kampung Bulan Jahe dan ada di Kampung Bulan Julu,” kenang Raja Sjahnan dalam memoar perjuangan Dari Medan Area ke Pedalaman dan Kembali ke Kota Medan.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

Advertisement

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Alkisah Masjid Buzancy di Ardennes, Prancis yang dibangun atas permintaan Sultan Salahuddin. Hancur semasa Revolusi Prancis. Kini beralih fungsi jadi sekolah.
Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

God Bless tak mau sembarangan bikin album. Laris bukan tujuan mereka menelurkan album.
Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Tuan Rondahaim melawan Belanda di Simalungun hingga akhir hayatnya. Dia tidak pernah menyerah. Penyakit rajalah yang menghentikan perlawanannya.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
bottom of page