- 25 Feb 2023
- 5 menit membaca
Diperbarui: 20 Mar
YATI dilahirkan di Pekalongan pada 1918 dari keluarga pejuang. Lima saudaranya perempuan. Ayahnya, Kadhol, aktif menjadi anggota Sarekat Islam. Sementara Ibu Kadhol mendirikan dapur umum untuk karyawan kereta api dan kantor pegadaian yang tergabung dalam Sarekat Islam ketika mereka melakukan pemogokan menuntut penurunan pajak oleh penguasa Belanda.
Karena aktivitas mereka, dua reserse Belanda berjaga-jaga di depan rumah. Tapi Kadhol merasa kasihan kepada kedua penjaga itu dan membuatkan “rumah-rumahan” untuk mereka. Tak jarang ia mengajak kedua penjaga itu untuk ngambeng atau kenduri. “Ibu Aruji dan adik-adiknya masih ingat kedua reserse sering pula mendapat dan membawa pulang berkat dari selamatan itu,” tulis Annie Bertha Simamora dalam Satu Abad Kartini 1879–1979.
Seingat Saartje, postur tubuh Yati kecil. “Bicaranya suka campuran Belanda, padahal orang Jawa dari Pekalongan. Kalau Pak Aruji orang Garut,” kata Saartje. Meski bertubuh kecil, “Yati keras dan tegas, mungkin karena tidak punya anak, jadi disiplin sekali. Ia juga keras dalam soal agama, entah orang tuanya atau kakeknya, tokoh PSII,” Tuti menambahkan. “Kalau Pak Aruji bageur (baik hati) dan merakyat, Yati agak menjaga jarak.” PSII singkatan dari Partai Syarikat Islam Indonesia, di mana Yati dan suaminya aktif di sana.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















