top of page

“Aku Ingin Dengar Permintaan Maaf”

Penyidikan pelecehan seksual oleh Uskup Belo pemenang hadiah Nobel.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Joss Wibisono, wartawan Radio Nederland, mewawancarai Uskup Carlos Felipe Ximenes Belo di Oslo setelah upacara penyerahan hadiah Nobel Perdamaian pada 10 Desember 1996. (Dok. Joss Wibisono).

1 Okt 2022
10 menit membaca

Diperbarui: 15 Mei

PEMENANG hadiah Nobel Perdamaian Timor Leste Uskup Carlos Felipe Ximenes Belo selama bertahun-tahun melakukan pelecehan seksual terhadap banyak remaja laki-laki, seperti terbukti dari beberapa kesaksian. “Kita harus berbicara tentang ini dan meneriakkannya dengan lantang ke dunia luar”.


Pada suatu hari Minggu pagi. Paulo berdiri di antara sekian banyak umat Katolik lain yang dengan penuh perhatian mengikuti misa yang diunjukkan oleh Uskup Belo di sebuah taman dekat kediamannya di Dili, ibu kota Timor Leste. Sesudah misa Monseigneur Belo mendekati Paulo yang waktu itu masih remaja, berusia sekitar lima belas atau enam belas tahun. “Ia minta saya ikut ke kediaman beliau,” kata Paulo (42 tahun), yang demi privasi dan keamanannya sendiri serta keluarganya harus tetap anonim, karena itu diberi nama samaran.


Undangan itu adalah kehormatan. “Saya senang sekali,” kata Paulo. Sebagai Uskup, Carlos Felipe Ximenes Belo bukan hanya pimpinan tertinggi gereja Katolik Timor Leste, tapi juga pahlawan nasional dan mercusuar tempat orang bertumpu harapan. Dia tampil membela tanah airnya yang begitu menderita akibat pendudukan berdarah-darah yang dilakukan Indonesia dari 1975 sampai 1999, menuntut penghargaan hak-hak asasi manusia dan hak untuk menentukan nasib sendiri.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page