- 30 Nov 2024
- 5 menit membaca
Diperbarui: 12 Apr
TAKSI kuning yang membawa saya dari Bandara Internasional Nicolau Lobato menuju Timor Hotel di kota Dili, Timor-Leste, melaju santai. Sepanjang jalan, beberapa toko atau restoran masih menggunakan papan nama berbahasa Indonesia.
Pengemudi taksi juga fasih berbicara bahasa Indonesia. Obrolan kami mengalir ke mana-mana. Mulai dari Basuki Thajaja Purnama atau Ahok dan Pilkada DKI hingga kasus kematian Mirna Salihin yang santer dibicarakan di sana.
Kendati Tetun dan Portugis merupakan bahasa resmi, bahasa Indonesia tetap digunakan. Saluran stasiun televisi swasta Indonesia juga masih menjadi primadona, sehingga orang-orang Timor-Leste, akrab dengan sinetron atau lagu-lagu pop berbahasa Indonesia.
“Sekarang yang lagi rame di sini dangdut D’Academy di Indosiar. Timor-Leste kirim wakil ke sana,” kata Ruben Gusmão, teman saya.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















