top of page

Al-Shifa, dari Barak Inggris hingga Rumah Sakit Terbesar di Gaza

RS Al-Quds dan RS Indonesia berhenti beroperasi. Menyisakan RS Al-Shifa yang bertahan di kota Gaza.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Area triase RS Al-Shifa di kota Gaza (WHO)

17 Nov 2023
5 menit membaca

Diperbarui: 20 Jun

SITUASI di Jalur Gaza, Palestina makin memilukan setelah lebih dari 40 hari digempur militer Israel. Dua rumahsakit di kota Gaza sudah terpaksa berhenti beroperasi.


Lima hari lalu, PRCS atau Bulan Sabit Merah Palestina, dikutip Anadolu Ajansı, Minggu (12/11/2023), menyatakan Rumah Sakit Al-Quds yang berlokasi di Tel al-Hawa, Gaza, terpaksa berhenti beroperasi setelah padamnya listrik karena kekurangan bahan bakar. Pasien-pasiennya dan staf medisnya baru bisa dievakuasi tiga hari berselang.


Hal serupa kemudian dialami Rumah Sakit Indonesia (RSI) yang berlokasi di Beit Lahiya, Gaza Utara. Tidak hanya kekurangan pasokan listrik, RSI –yang pasiennya sudah membludak lima kali lipat dari kapasitas maksimalnya– sudah tak lagi punya stok obat-obatan dan fasilitas medis lainnya hingga tak lagi bisa beroperasi sejak Kamis (16/11/2023).

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page