top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Alkisah Kompi Parang Berdarah

Dengan senjata seadanya, pejuang Aceh menebar teror terhadap tentara Belanda di Medan.

28 Agu 2017

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Ilustrasi Mayor Bahrin. (Betaria Sarulina/Historia)

Kota Medan, pertengahan 1947. Di tiap-tiap sudut kota berseliweran plakat sayembara. Demikian isinya.


“Siapa saja yang berhasil membawa kepala Mayor Bahrin, Mayor Alamsyah, Kapten Bejo dan Kapten Nukum Sanany hidup atau mati dan menyerahkannya kepada Belanda, diberi hadiah uang sebesar Fl.000,- gulden.”


Nama pertama barangkali yang paling diburu sekaligus ditakuti pihak militer Belanda: Mayor Bahrin Yoga. Dalam beberapa sumber lain namanya disebut Bahren.


“Ia jantan dan galak di medan pertempuran, sehingga pernah dijuluki Singa Medan Area,” tulis Tengku Abdul Karim Jakobi dalam Aceh Daerah Modal: Long March ke Medan Area.


Bahrin termasuk rombongan dari Aceh pertama yang terjun ke kancah Front Medan Area. Di Aceh, Bahrin berkedudukan sebagai komandan Batalion II Resimen I Divisi Gajah II di Kutacane. Longmarch menuju Medan dilakukan sejak Februari 1946, tak lama setelah kota itu dikuasai Belanda. Dalam rombongan Aceh itu turut serta para pejuang Gayo dari Blangkejeren dan Kutacane, Aceh Tenggara.


Di Medan, Bahrin menjadi komandan Batalion I Resimen I dari Resimen Istimewa Medan Area (RIMA) yang bermarkas di Tuntungan, Medan Barat. RIMA merupakan resimen khusus yang dipersiapkan untuk membebaskan kota Medan dari kekuatan militer Belanda. Dalam batalionnya, Bahrin lebih banyak menggunakan waktunya di front bersama pasukan. Dalam bunga rampai Kisah Perjuangan Mempertahankan Daerah Modal Republik Indonesia dari Serangan Belanda disebutkan, Batalion Bahrin kerap beroperasi di malam hari dengan hanya bersenjatakan parang atau senjata tajam lainnya.


Operasi yang dipimpin Bahrin biasanya dilakukan menjelang subuh bersama satu atau dua orang pembantu. Target operasinya adalah patroli tentara Belanda yang sedang lengah. Selain itu, penyergapan juga dilakukan dengan menyamar dan menyusup ke asrama serdadu Belanda.


“Dari sekian banyak operasi yang dilakukan, tak jarang berhasil menebas patroli Belanda dan mereka kembali biasanya dengan parang berlumuran darah,” tulis Jakobi yang merupakan veteran tentara pelajar dalam pertempuran Medan Area. Dari sinilah awal kisah lahirnya unit pasukan pembunuh berdarah dingin “Parang Berdarah”, yang kemudian dilanjutkan dan ditata kembali oleh Letnan Bustanil Arifin dalam suatu kesatuan yang diberi nama “Kompi Parang Berdarah”.


Penggunaan parang bukan tanpa alasan. Menurut Bustanil Arifin dalam biografinya Beras, Koperasi, dan Politik Orde Baru karya Fachry Ali dkk, di dalam kompi itu hanya mempunyai 17 buah senapan api dan selebihnya adalah parang dan kelewang.


Pada April 1947, Panglima Divisi Gajah I, Kolonel Husein Yusuf mengangkat Mayor Bahrin menjadi komandan RIMA menggantikan Mayor Hasan Ahmad. Pengangkatan itu didasarkan pertimbangan bahwa Mayor Bahrin yang beroperasi di sekitar Tuntungan cukup berpengalaman dan disegani oleh patroli Belanda.


Hanya dua bulan saja Bahrin menjabat komandan RIMA. Mayor Bahrin ditembak mati oleh anak buah kepercayaannya, Letnan Satu Ahmad Ahman Bedus. Tragedi ini justru terjadi di markas Batalion Bahrin di Tuntungan. Setelah peristiwa nahas itu, Letnan Ahmad diinterogasi kemudian di penjara di Pematang Siantar.


Motif pembunuhan misterius. Menurut anggota pasukan Batalion Bahrin, sebagaimana dikutip Jakobi, menjelang tertembaknya Bahrin, seorang wanita cantik memasuki kompleks pemukiman Batalion Bahrin yang kemudian menabur isu dan saling curiga antarpasukan. Wanita itu menyamar sebagai istri pemilik warung makanan dalam kompleks pemukiman.


Dalam pertempuran Medan Area, Belanda menebar ratusan mata-matanya ke pihak tentara Republik bahkan hingga ke pedalaman Aceh. “Sebagiannya terdiri dari wanita-wanita ayu yang mampu meringkus prajurit yang kelaparan di front,” ujar Jakobi.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Dari Brussel ke Jalan Astrid di Kebun Raya Bogor. Raja dan Ratu Belgia dari berbagai masa punya cerita di Indonesia.
Riwayat Konglomerat Dasaad

Riwayat Konglomerat Dasaad

Jaringan bisnis Dasaad membentang di dalam dan luar negeri. Ia tercatat sebagai pengusaha Indonesia pertama yang membuka kantor cabang di Amerika Serikat.
Brigitte Bardot yang Kontroversial

Brigitte Bardot yang Kontroversial

Brigitte Bardot tak sekadar ikon perfilman yang dijuluki “Marylin Monroe-nya Prancis”. Ia juga “lokomotif sejarah perempuan”.
bottom of page