top of page

Alkisah Kompi Parang Berdarah

Dengan senjata seadanya, pejuang Aceh menebar teror terhadap tentara Belanda di Medan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi Mayor Bahrin. (Betaria Sarulina/Historia)

29 Agu 2017
2 menit membaca

Kota Medan, pertengahan 1947. Di tiap-tiap sudut kota berseliweran plakat sayembara. Demikian isinya.


“Siapa saja yang berhasil membawa kepala Mayor Bahrin, Mayor Alamsyah, Kapten Bejo dan Kapten Nukum Sanany hidup atau mati dan menyerahkannya kepada Belanda, diberi hadiah uang sebesar Fl.000,- gulden.”


Nama pertama barangkali yang paling diburu sekaligus ditakuti pihak militer Belanda: Mayor Bahrin Yoga. Dalam beberapa sumber lain namanya disebut Bahren.


“Ia jantan dan galak di medan pertempuran, sehingga pernah dijuluki Singa Medan Area,” tulis Tengku Abdul Karim Jakobi dalam Aceh Daerah Modal: Long March ke Medan Area.


Bahrin termasuk rombongan dari Aceh pertama yang terjun ke kancah Front Medan Area. Di Aceh, Bahrin berkedudukan sebagai komandan Batalion II Resimen I Divisi Gajah II di Kutacane. Longmarch menuju Medan dilakukan sejak Februari 1946, tak lama setelah kota itu dikuasai Belanda. Dalam rombongan Aceh itu turut serta para pejuang Gayo dari Blangkejeren dan Kutacane, Aceh Tenggara.


Di Medan, Bahrin menjadi komandan Batalion I Resimen I dari Resimen Istimewa Medan Area (RIMA) yang bermarkas di Tuntungan, Medan Barat. RIMA merupakan resimen khusus yang dipersiapkan untuk membebaskan kota Medan dari kekuatan militer Belanda. Dalam batalionnya, Bahrin lebih banyak menggunakan waktunya di front bersama pasukan. Dalam bunga rampai Kisah Perjuangan Mempertahankan Daerah Modal Republik Indonesia dari Serangan Belanda disebutkan, Batalion Bahrin kerap beroperasi di malam hari dengan hanya bersenjatakan parang atau senjata tajam lainnya.


Operasi yang dipimpin Bahrin biasanya dilakukan menjelang subuh bersama satu atau dua orang pembantu. Target operasinya adalah patroli tentara Belanda yang sedang lengah. Selain itu, penyergapan juga dilakukan dengan menyamar dan menyusup ke asrama serdadu Belanda.


“Dari sekian banyak operasi yang dilakukan, tak jarang berhasil menebas patroli Belanda dan mereka kembali biasanya dengan parang berlumuran darah,” tulis Jakobi yang merupakan veteran tentara pelajar dalam pertempuran Medan Area. Dari sinilah awal kisah lahirnya unit pasukan pembunuh berdarah dingin “Parang Berdarah”, yang kemudian dilanjutkan dan ditata kembali oleh Letnan Bustanil Arifin dalam suatu kesatuan yang diberi nama “Kompi Parang Berdarah”.


Penggunaan parang bukan tanpa alasan. Menurut Bustanil Arifin dalam biografinya Beras, Koperasi, dan Politik Orde Baru karya Fachry Ali dkk, di dalam kompi itu hanya mempunyai 17 buah senapan api dan selebihnya adalah parang dan kelewang.


Pada April 1947, Panglima Divisi Gajah I, Kolonel Husein Yusuf mengangkat Mayor Bahrin menjadi komandan RIMA menggantikan Mayor Hasan Ahmad. Pengangkatan itu didasarkan pertimbangan bahwa Mayor Bahrin yang beroperasi di sekitar Tuntungan cukup berpengalaman dan disegani oleh patroli Belanda.


Hanya dua bulan saja Bahrin menjabat komandan RIMA. Mayor Bahrin ditembak mati oleh anak buah kepercayaannya, Letnan Satu Ahmad Ahman Bedus. Tragedi ini justru terjadi di markas Batalion Bahrin di Tuntungan. Setelah peristiwa nahas itu, Letnan Ahmad diinterogasi kemudian di penjara di Pematang Siantar.


Motif pembunuhan misterius. Menurut anggota pasukan Batalion Bahrin, sebagaimana dikutip Jakobi, menjelang tertembaknya Bahrin, seorang wanita cantik memasuki kompleks pemukiman Batalion Bahrin yang kemudian menabur isu dan saling curiga antarpasukan. Wanita itu menyamar sebagai istri pemilik warung makanan dalam kompleks pemukiman.


Dalam pertempuran Medan Area, Belanda menebar ratusan mata-matanya ke pihak tentara Republik bahkan hingga ke pedalaman Aceh. “Sebagiannya terdiri dari wanita-wanita ayu yang mampu meringkus prajurit yang kelaparan di front,” ujar Jakobi.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
It was not without reason that Ahmad Subardjo was nicknamed “The Guarantor of Independence” in Indonesia. However, he was absent when Sukarno proclaimed independence.
bg-gray.jpg
Saat memimpin Jakarta, Sudiro dihadapkan pada kondisi berantakan. Putar otak demi pembangunan kota, termasuk cari dana di luar lungsuran dari pusat. Sering pula gagasannya ditolak pemerintah pusat.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo was born in Karawang to a family of Acehnese and Javanese nobility. The beloved son of a civil service police officer, he moved to Batavia to continue his education at a Dutch school.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah became the first female minister in Indonesian history. She handled everything from diplomacy and labor issues to makeup and lipstick.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Cerita lama tentang feodalisme, priayi intelek dan misteri raibnya sebuah patung.
Cerita lama tentang feodalisme, priayi intelek dan misteri raibnya sebuah patung.
Drama persaingan sekaligus persahabatan dua pembalap flamboyan legendaris yang memicu adrenalin.
Drama persaingan sekaligus persahabatan dua pembalap flamboyan legendaris yang memicu adrenalin.
Gara-gara wasit telat datang, Italia gagal melakoni laga kualifikasi. Di laga persahabatan malah berakhir kacau. Italia gagal lolos Piala Dunia 1958 di Swedia.
Gara-gara wasit telat datang, Italia gagal melakoni laga kualifikasi. Di laga persahabatan malah berakhir kacau. Italia gagal lolos Piala Dunia 1958 di Swedia.
Idris Sardi tak hanya lihai menggesek biola. Dia juga tukang cerita.
Idris Sardi tak hanya lihai menggesek biola. Dia juga tukang cerita.
Presiden pertama Palau tewas dibunuh saat berupaya mewujudkan kedaulatan penuh negerinya sekaligus mengatasi konflik di luar dan dalam negerinya.
Presiden pertama Palau tewas dibunuh saat berupaya mewujudkan kedaulatan penuh negerinya sekaligus mengatasi konflik di luar dan dalam negerinya.
transparant.png
bottom of page