- 28 Agu 2025
- 4 menit membaca
Diperbarui: 1 hari yang lalu
AMIR Sjarifoeddin tak tahu apa yang terjadi pada 17 Agustus 1945. Sementara Sukarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Pegangsaan Timur 56, Jakarta, Amir justru meratapi nasib di penjara. Meski absen dalam proklamasi kemerdekaan, Amir bukanlah orang kemarin sore dalam panggung pergerakan nasional. Tokoh sekelas Sukarno sekalipun pasang badan untuk membebaskannya.
“Sampai pula laporan kepadaku bahwa Amir Sjarifoeddin, salah seorang pemimpin dari gerakan bawah tanah, selama berminggu-minggu telah digantung oleh Kenpeitai dengan kakinya ke atas. Dia disuruh meminum air kencingnya sendiri. Dia takkan dapat tahan lebih lama lagi. Aku merundingkan pembebasannya dengan menegaskan kepada para pejabat yang bersangkutan,” kenang Sukarno dalam otobiografinya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.
Amir ditangkap polisi intelijen Jepang (Kenpeitai) sejak Februari 1943. Sebelum ditangkap, Amir membentuk Gerakan Anti-fasis (Geraf) pada 1940, yang merupakan kelompok kiri anti-fasis. Kenpeitai kemudian mencurigai Amir berkomplot menggalang gerakan rahasia melawan Jepang.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















