- 3 Jul 2019
- 3 menit membaca
SIANG bolong, 7 Juni 1908, tangisan bayi pecah. Kegembiraan menyelimuti pasangan Martomihardjo dan Kasmirah atas kelahiran putra pertama mereka setelah delapan tahun penantian. Martomihardjo seorang pamongpraja dari Purwerejo, Jawa Tengah, yang saat itu menjabat asisten wedana di Jasinga, Bogor –terakhir sebagai wedana di Tangerang dan kadang-kadang asisten wedana di Bogor. Sementara Kasmirah, juga dari keluarga priayi, asli Bogor.
Kendati punya rumah dinas, pasangan ini sering menginap dan tinggal di rumah Oma Ermeling, kakak dari kakek Kasmirah. Oma Ermeling adalah istri dari Mayor Jenderal Philip Johann Ermeling, seorang perwira zeni KNIL yang kemudian memimpin pertambangan timah De Biliton Maatschappij. Di rumah keluarga Ermeling pula Kasmirah melahirkan.
Pasangan Martomihardjo-Kasmirah memberi nama anak mereka: Said Soekanto. Kelak, setelah dewasa, sebagaimana kebiasaan masyarakat Jawa, Soekanto menambahkan “nama tua”: Tjokrodiatmodjo. Karena ayahnya punya gelar Raden Ngabehi, Soekanto meletakkan gelar Raden di depan namanya. Dia menyandang nama lengkap: Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















