top of page

"Anak Tiri" di Pertempuran Kranji

Demi menggagalkan pendudukan Jepang di Singapura, sukarelawan Tionghoa rela mempertaruhkan nyawa. Perjuangannya tak diakui.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Reservoir Kranji, saksi bisu Pertempuran Kranji. (The Soon/Wikipedia).

23 Jul 2019
4 menit membaca

SEEKOR ikan arapaima raksasa menjadi pemberintaan Singapura pada 6 Juli 2019. Dengan panjang dua meter dan bobot 150 kilogram, ikan itu hampir membunuh Shannon Lim, seorang peternak, saat akan dipindahkan.


“Arapaima mendorong pria berbobot 92 kilogram itu –‘seperti ketika seorang ibu menyeret anaknya di sebuah mal’– sebelum menyundul dadanya, mengakibatkan cipratan hebat dan menjatuhkan Lim ke air,” demikian diberitakan channelnews asia.com.


Raksasa air tawar itu berada di sebuah peternakan di Lim Chu Kang, dekat Kranji Reservoir. Di dekat reservoir itu pula seekor buaya sepanjang 3,4 meter ditemukan sebulan sebelumnya.


“Waduk Kranji sebenarnya ditetapkan sebagai cagar, dan dulunya merupakan rawa bakau luas yang mendukung kekayaan satwa liar. Kebutuhan akan pasokan air yang meningkat membawa perubahan dramatis pada area tersebut,” tulis buku terbitan Centre for Advanced Studies, National University of Singappore, Public Space: Design, Use and Management.


Di wilayah berawa di barat daya Singapura inilah pada awal 1942 penduduk Singapura bahu-membahu dengan pasukan Inggris-Australia menghadang pendaratan pasukan Jepang di bawah pimpinan Mayjen Takuma Nishimura.


Setelah sukses menduduki Pantai Sarimbun, pasukan AD ke-25 Jepang di bawah pimpinan Letjen Tomoyuki Yamashita langsung mengambilalih Istana Sultan Johor untuk dijadikan markasnya. Yamashita kemudian menjadikan garis Kranji-Causeway Johor yang –dijaga Brigade ke-22 (bertugas di barat Sungai Kranji) dan ke-27 (timur sungai) AD Australia di bawah pimpinan Brigjen Duncan Maxwell– membentang sepanjang empat kilometer sebagai titik pendaratan kedua untuk masuk ke jantung Singapura. Untuk melaksanakan tugas itu, Yamashita menugaskan Nishimura dengan pasukan Imperial Guard-nya.


Langkah Yamashita telah diantisipasi pihak Sekutu-Inggris sejak jauh hari. Pada akhir 1941, Gubernur Singapura Sir Shenton Thomas mendapat telegram rahasia dari sekretaris urusan koloni yang berisi permintaan agar menghilangkan kepentingan sepihak dengan cara merangkul kaum Tionghoa untuk ikut berjuang menahan kemungkinan pendudukan Jepang. Menindaklanjuti perintah itu, gubernur mengadakan pertemuan dengan komunitas Tionghoa di Kuala Lumpur. Hasilnya, pemilihan Tan Kah Kee, tokoh Tionghoa terkemuka di Singapura, sebagai ketua organisasi sukarelawan Tionghoa untuk menghadapi Jepang.


Ribuan orang Tionghoa lalu mendaftarkan diri ke dalam barisan sukarelawan pimpinan Tan itu. Mereka lalu dilatih teknik dasar militer oleh Letkol John Dalley, perwira intelijen di Kepolisian Khusus Malaya, dan disatukan ke dalam pasukan bernama Dalforce.


“Sebagai hasil dari bantuan yang diberikan Tan Kah Kee, pasukan besar gerilyawan Tiongkok, berjumlah sekitar dua ribu, dibentuk oleh Dalley di Kuala Lumpur dari beragam kelompok Tionghoa –beberapa dari mereka telah ditahan oleh Inggris sebelum perang akibat kegiatan Komunis dan dibebaskan dari penjara untuk mengabdi bersama Dalforce– yang ditambah oleh siswa, guru sekolah, penarik becak, dan buruh Tiongkok. Mereka dibagi menjadi beberapa kompi, masing-masing di bawah komando seorang perwira Inggris,” kata Leon Comber dalam bukunya Dalley and the Malayan Security Service, 1945-48.


Namun, Inggris setengah hati membentuk Dalforce lantaran banyak anggotanya merupakan komunis. Selain hanya memberi 10 hari latihan dasar militer, Inggris mempersenjatai beberapa personil Dalforce dengan senapan usang Lee Enfield .303 berikut jatah peluru 24 butir, beberapa granat tangan, dan bayonet. Banyak personil hanya bersenjatakan senapan berburu. Para personil Dalforce juga hanya dibekali seragam biru berikut ban lengan segitiga, tak ada topi apalagi helm.


Meski dianaktirikan, semangat juang para personil Dalforce tetap tinggi. “Dari semua pasukan yang mempertahankan Singapura, Dalforce dikatakan yang paling termotivasi untuk melawan Jepang,” sambung Comber. Simpati terhadap saudara mereka di China yang diduduki Jepang sejak 1930-an menjadi alasan di balik keinginan mereka bertempur melawan Jepang.


Kegigihan mereka dibuktikan ketika menahan gerak-maju Jepang di Pantai Sarimbun. “Pada 8 Februari 1942,” kata lektor senior Singapore University of Social Sains (SUSS) Tan Wei Lim dalam buku Cultural Heritage and Peripheral Spaces in Singapore, “Kompi Dalforce No. 2 (berjumlah 150 orang) mundur dari Jalan Lim Chu Kang dan kemudian berenang melalui Sungai Kranji untuk mencapai Jalan Choa Chu Kang, hanya sekitar 60 yang hidup untuk menceritakan kisah mereka.”


Ketika Nishimura resmi melancarkan serangannya dengan dibuka oleh bombardir kanon ke Desa Kranji, para personil Dalforce dan prajurit Brigade ke-27 Australia bertahan di hutan bakau sekitar Kranji sambil menunggu kedatangan para prajurit Jepang. Mereka telah menumpahkan di depo Sungai Mandai Kecil ke sungai. Begitu para prajurit Jepang mulai menyeberangi selat dengan menggunakan perahu motor dan sebagian berenang, pasukan Sekutu langsung membakar sungai berminyak tadi dan menghujani lawan dengan tembakan. Korban Jepang berjatuhan, banyak yang mati terbakar. Pasukan Nishimura mundur kembali ke Johor.


Baru di jam-jam awal 10 Februari pasukan Jepang kembali ke Kranji. Pertempuran sengit pun terjadi. Namun, kali ini perlawanan dari Sekutu hanya dilakukan pasukan Dalforce yang sudah hampir kehabisan amunisi. Kekuatan tak imbang itu membuat Jepang kemudian berhasil merebut wilayah Kranji-Causeway.  


“Mereka hancur berkeping-keping. Mereka menggunakan semua amunisi mereka. Tidak ada yang terluka untuk dibawa kembali. Mereka berdiri di tanah mereka. Mereka mendapat perintah untuk tinggal dan mereka tinggal. Dan mereka semua mati. Batalion senapan mesin Australia tidak tinggal di sana. Mereka mundur. Mereka ketakutan,” kata Kenneth Attiwill, personil Australia yang menyertai Dalley menginspeksi kompi Sungai Kranji pagi harinya, sebagaimana dikutip Cheah Boon Kheng dalam “Japanese Army Policy Toward Chinese and Malay-Chinese Relations in Wartime Malaya”, termuat di Southeast Asian Minorities in the Wartime Japanese Empire.


Sehari sebelum Inggris menyerah pada Jepang pada 15 Februari, Dalley membubarkan Dalforce. Para mantan anggotanya melarikan diri, sebagian ke Sumatra tapi mayoritas ke Semenanjung untuk bergabung dengan Malayan Peoples Anti-Japanese Army. Mantan kombatan yang belum sempat melarikan diri dan tertangkap Jepang, dieksekusi dalam Pembantaian Sook Ching.


Usai perang, Inggris menutup rapat-rapat sejarah Dalforce. Penyebabnya apa lagi kalau bukan banyak anggota Dalforce merupakan komunis.


“Meskipun diadakan upacara publik 6 Januari dan 8 Juni 1946 di Singapura dan London, pihak berwenang menolak mengakui bahwa anggota Dalforce secara resmi menjadi bagian dari pasukan Kerajaan Inggris tahun 1942. Para veteran bersikeras Inggris harus mengakui mereka bukan laskar, tetapi berada di bawah Komando Malaya. Veteran mengklaim bahwa Kolonel Dalley telah memberi tahu mereka saat pembubaran pada 1942, bahwa ‘Anda tentu akan menerima perlakuan sama dengan Tentara Inggris’, kata Karl Hack dan Kevin Blackburn dalam buku War Memory and the Making of Modern Malaysia and Singapore.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
PKI memiliki tradisi intelektual yang kuat. Membawa gagasan ke tengah masyarakat melalui pendidikan dan pemberantasan buta huruf. Hasilnya menjadi salah satu partai terbesar.
bg-gray.jpg
Selama tiga dekade tinggal di Uni Soviet, Semaoen menggeluti berbagai profesi: penyiar radio, penerjemah, dosen, hingga wakil perdana menteri.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
Kumis dalam sejarah masyarakat Eropa tidak semata-mata selera pribadi, tetapi juga dipengaruhi kontrol sosial hingga citra pahlawan militer yang heroik.
Kumis dalam sejarah masyarakat Eropa tidak semata-mata selera pribadi, tetapi juga dipengaruhi kontrol sosial hingga citra pahlawan militer yang heroik.
Bukan hanya manusia yang perlu disayangi. Bumi juga perlu disayangi.
Bukan hanya manusia yang perlu disayangi. Bumi juga perlu disayangi.
Kecelakaan Ethiopian Airlines dan Lion Air bermuara pada keputusan di-grounded-nya Boeing 737 MAX 8. Bukan kali pertama.
Kecelakaan Ethiopian Airlines dan Lion Air bermuara pada keputusan di-grounded-nya Boeing 737 MAX 8. Bukan kali pertama.
Sejak awal diselenggarakan, pesta rakyat tahunan ini tetap mempertahankan fondasi utamanya.
Sejak awal diselenggarakan, pesta rakyat tahunan ini tetap mempertahankan fondasi utamanya.
Cita-cita revolusi kemerdekaan Indonesia tak untuk memperlebar jurang orang kaya dan miskin dan mengabaikan hak-hak minoritas.
Cita-cita revolusi kemerdekaan Indonesia tak untuk memperlebar jurang orang kaya dan miskin dan mengabaikan hak-hak minoritas.
Willie, si singa berambut ala personel The Beatles, sang pelopor tradisi maskot.
Willie, si singa berambut ala personel The Beatles, sang pelopor tradisi maskot.
transparant.png
bottom of page