top of page

Angan-Angan “Kemenangan”

Artikel bersejarah karya Henk Sneevliet yang jarang disebut dalam sejarah Indonesia. Ia mengajak rakyat Jawa meniru revolusi di Rusia, bangkit melawan kolonialisme. Berujung pada pembuangan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Henk Sneevliet ketika menjadi sekretaris pada Semarangsche Handelsvereeniging tahun 1917. (Internationaal Instituut voor Sociale Geschiedenis/IISG).

  • 7 Okt 2023
  • 6 menit membaca

Diperbarui: 9 Mei

PAGI itu, pukul 10, Selasa, 20 November 1917, ratusan orang berkumpul di ruang sidang gedung Pengadilan Tinggi (Raad van Justitie) Semarang. Mereka hendak menyaksikan persidangan yang tidak biasa: seorang Belanda totok dimejahijaukan. Henk Sneevliet, nama pesakitan itu, diadili atas tuduhan persdelict (menghasut rakyat lewat tulisan untuk melawan pemerintah kolonial) melalui artikelnya yang berjudul Zegepraal (Kemenangan) yang dimuat De Indiers, 19 Maret 1917. 


Kisah pengadilan Sneevliet bermula dari kabar revolusi di Rusia. Pada 8 dan 9 Maret 1917 kaum buruh di Petrograd turun ke jalan, demonstrasi besar-besaran sambil menyanyikan Mareseillese. Tentara dikirim untuk membubarkan demonstrasi. Alih-alih menembaki demonstran, mereka malah berbalik mendukung. Revolusi Rusia meletus hari itu. Lewat secarik telegram pada 18 Maret 1917, Sneevliet menerima kabar revolusi di Rusia itu. 


Terinspirasi revolusi di Rusia, dia bergegas menulis artikel yang diberi judul Zegepraal (Kemenangan). Melalui artikelnya, Sneevliet mengajak kaum buruh di Hindia Belanda bangkit melawan kolonialisme dan imperialisme. 

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Rasa kebangsaan Ahmad Subardjo tergugah oleh tulisan Soewardi Soerjaningrat dan pidato Tjokroaminoto. Dia juga sempat menggeluti teosofi.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo tak hanya berotak encer dalam pelajaran, wawasan dunia dan kesadaran kebangsaannya tumbuh berkat Jules Verne, Multatuli, hingga Sun Yat-sen.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah terpikat sosialisme pada pandangan pertama. Sutan Sjahrir jadi comblangnya.
bg-gray.jpg
Buyut Ahmad Subardjo berasal dari keluarga terpandang di Aceh yang terlibat persaingan kekuasaan. Dia memilih merantau ke Jawa dan menjadi pemuka agama Islam. Anaknya mengikuti jejaknya.
Sepakbolanya lahir dari zaman perang. Dirajut dari masa ke masa di tengah konflik.
Sepakbolanya lahir dari zaman perang. Dirajut dari masa ke masa di tengah konflik.
Tuan rumah terhindar dari malu di Indonesia Open 2019 berkat kegemilangan ganda putra. Sektor yang dulunya dipandang sebelah mata.
Tuan rumah terhindar dari malu di Indonesia Open 2019 berkat kegemilangan ganda putra. Sektor yang dulunya dipandang sebelah mata.
Meski namanya masih asing di telinga, kerja keras bangsa Viking ini membuahkan prestasi dalam sepakbola.
Meski namanya masih asing di telinga, kerja keras bangsa Viking ini membuahkan prestasi dalam sepakbola.
Nilai budaya Melayu mulai luntur. Namun, bisa kembali dihidupkan melalui ingatan kolektif yang masih muncul dalam tradisi masyarakat Melayu.
Nilai budaya Melayu mulai luntur. Namun, bisa kembali dihidupkan melalui ingatan kolektif yang masih muncul dalam tradisi masyarakat Melayu.
Sekuel “Venom 2” menghadirkan drama-action berbalut komedi. Karakter anti-hero yang mulanya berasal dari sayembara penggemar.
Sekuel “Venom 2” menghadirkan drama-action berbalut komedi. Karakter anti-hero yang mulanya berasal dari sayembara penggemar.
Usai menginspirasi jutaan orang dalam sepakbola, kini sang legenda pergi untuk selamanya. Jakarta beruntung sempat menjadi salah satu kota yang dikunjungi Maradona.
Usai menginspirasi jutaan orang dalam sepakbola, kini sang legenda pergi untuk selamanya. Jakarta beruntung sempat menjadi salah satu kota yang dikunjungi Maradona.
transparant.png
bottom of page