- 17 Jul 2023
- 7 menit membaca
Diperbarui: 9 Apr
PAGI hari di hari pertama bulan Maret 1954. Di Kepulauan Marshall, Pasifik, langit begitu cerah. Anak-anak berlarian gembira lalu berenang. Seorang pemuda asyik memetik kelapa. Nelayan paruh baya setia di perahunya menunggu peruntungan dari datangnya ikan. Namun, keindahan itu berubah seketika. Langit kelam. Cahaya memberkas lalu membesar dan menjalar cepat. Dentuman membahana. Gumpalan debu membentuk cendawan.
“Amerika Serikat baru saja menguji bom hidrogen yang ratusan kali lebih kuat daripada senjata apapun yang pernah ada sebelumnya,” tulis Richard Alan Schwartz dalam The 1950s. “Kekuatan ledakannya setara lebih dari lima juta ton TNT.”
Castle Bravo, bom hidrogen (termonuklir) milik AS itu, meledak sekira pukul 06.45 di Pulau Bikini, Kepulauan Marshall. Kawah berdiameter lebih dari 100 meter langsung memenuhi pulau tempat uji coba. Hijau pepohonan lenyap berganti hamparan kegersangan. Penduduk sekitar terkontaminasi zat radioaktif. Laut dan udara dalam jarak bermil-mil tercemar. Sejumlah negara melayangkan protes.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















