- 14 Jul 2010
- 5 menit membaca
Diperbarui: 10 Des 2025
SEBUAH pekarangan rumah di salah satu kampung di Kemayoran, Jakarta. Seorang bocah enam tahun asyik bermain pada suatu siang tahun 1940-an. Kulitnya legam, berbadan cebol dan tambun. Ia hanya bercelana kolor.
Tiba-tiba suara keluar dari mulut seorang kakek yang berada di dekatnya. Si kakek minta tolong pada bocah itu, yang merupakan cucunya. “Ben, beliin engkong tape,” kata si kakek.
Si bocah langsung menghampiri kakeknya, mengambil uang receh dan menuju ke tempat tukang tape biasa mangkal. “Pekerjaan” itu sudah menjadi kebiasaan bagi si bocah.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












