- 14 Jul 2010
- 5 menit membaca
Diperbarui: 10 Des 2025
MANTAN Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter pernah berkata, “Jika Anda ingin tahu Amerika, dengarlah Bob Dyland”. Mungkin juga dalam hal tertentu demikian pula lagu-lagu Benyamin: mengantarkan pendengarnya menyelami kota Jakarta pada zamannya.
Lagu-lagu Ben, demikian ia akrab disapa, memang banyak melukiskan rona kehidupan orang Jakarta. Lewat lagunya ia bicara mulai got mampet, dua tetangga yang berselisih, pertengkaran tukang kredit sampai soal memandikan burung perkutut. Semua ia ceritakan dengan kata-kata sederhana, mudah dicerna, dan seringkali penuh jenaka.
“Kehadiran Benyamin melalui karya-karya yang mengangkat persoalan sehari-hari warga masyarakat, betawi khususnya, menjadi semacam maujud dari seluruh kebudayaan betawi itu sendiri. Lewat karyanya itu ia menjelma menjadi ikon regional dan bahkan nasional yang melampaui batas-batas geografis budaya betawi. Benyamin adalah manifestasi terbesar yang dimiliki oleh betawi,” kata sejarawan dari Komunitas Bambu JJ. Rizal kepada Historia.ID.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















