- 23 Mei 2024
- 6 menit membaca
Diperbarui: 26 Mar
HAMPIR pukul lima pagi. Ahmad Sururi, seorang siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Farmasi, bangun dan bergegas wudu. Sajadah terhampar. Dia mulai salat. Ketika sujud, lalu bangkit masuk rakaat kedua, pandangannya melamur. Tubuhnya terasa ringan. Kesadarannya hilang. Dan... bluk! Ahmad terjatuh dan pingsan selama beberapa menit. Begitu tersadar, dia berdiri dan bersiap ke sekolah. Lupa bahwa tadi dia sedang salat.
Di sekolah, Ahmad punya banyak kegiatan. Dia sering kelelahan. Pikirannya juga terkuras. Dia sempat pingsan beberapa kali. Keletihan biasa, pikir Ahmad. Tapi lama-lama kondisinya memburuk dan mengganggu aktivitasnya. Dia pergi ke rumah sakit. Dokter mengatakan dia terkena gejala epilepsi.
Mengetahui Ahmad kena epilepsi, keluarga bersikap protektif dengan melarangnya ikut kegiatan ini-itu. Teman-teman mulai jarang mengajaknya berkegiatan. Kesal menerima perlakuan berbeda, Ahmad bertekad membuktikan penyandang epilepsi bisa beraktivitas normal.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












