- 14 jam yang lalu
- 3 menit membaca
DI ANTARA perintis Kantor Berita Antara, Asa Bafagih kurang begitu populer. Sejak 1945 hingga sekarang, Kantor Berita Antara merupakan kantor berita dan lembaga penyiaran resmi milik Republik Indonesia. Nama-nama seperti Adam Malik, A.M. Sipahutar, Pandu Kartawiguna, dan Sumanang jauh lebih dikenal sebagai pendiri Antara.
“Waktu Adam Malik dan Pak Asa berani menerobos, terus mengakali para penjaga dan redaktur Domei, itu hebat. Karena waktunya cepat sekali. Tiba-tiba [berita Proklamasi kemerdekaan Indonesia] tersiar. Besoknya kita menerima pengakuan kedaulatan dari Mesir. Jadi, itu sebuah prestasi,” kata Dirut LKBN Antara, Benny Siga Butar-butar dalam diskusi buku Asa Bafagih: Diplomat & Tokoh Pers Indonesia karya Nabiel A. Karim Hayaze di Gedung Antara Heritage, Jakarta Pusat, 5 April 2026.
Dari kiprah senyap Asa Bafagih, menurut Benny, Antara yang sudah menginjak usia lebih dari delapan dekade ini harus mencari akarnya. “Identitas itu tidak boleh hilang. Asa Bafagih adalah bagian dari harapan dan kehidupan Antara dulu, sekarang dan masa depan,” katanya.
Asa Bafagih merupakan tokoh pers Indonesia berdarah Arab kelahiran Tanah Abang, Jakarta pada 14 Desember 1918. Nama lengkapnya Abdillah bin Syech bin Ali Bafagih yang kemudian disingkat menjadi Asa Bafagih. Karier jurnalistiknya diawali sebagai redaktur mingguan terbitan Medan, Pandji Islam untuk wilayah Jawa, kemudian suratkabar Pembangunan terbitan Jakarta dalam rentang waktu 1938–1942.
Pada 1942, bertepatan dengan pendudukan Jepang, Asa Bafagih menjadi redaktur Kantor Berita Domei yang kemudian menjadi Antara setelah Indonesia merdeka. Ketika kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, Asa Bafagih terlibat dalam penyiaran berita itu. Dia kemudian menjadi ketua Kantor Berita Antara cabang Jakarta.
Dalam Lima Windu Antara disebutkan Adam Malik dari tempat persembunyiannya menelepon ke kantor Domei, mendiktekan bunyi Proklamasi yang baru saja dibacakan Sukarno. Asa Bafagih yang menerima telepon, meneruskannya kepada Pangulu Lubis untuk disiarluaskan. Pangulu mengirimkan naskah berita Proklamasi ke bagian radio dengan menyelipkannya dalam morse-cast Domei, di antara berita-berita yang telah dibubuhi izin Hodohan, semacam badan sensor pemerintah pendudukan Jepang. Dari situlah berita Proklamasi kemerdekaan Indonesia tersiar sampai ke luar negeri.
Setelah Antara, Asa Bafagih membesut berbagai surat kabar sebagai pemimpin redaksi sepanjang periode 1950-an. Mulai dari suratkabar Merdeka (1947–1951), Pemandangan (1951–1954), Duta Masjarakat (1954–1957), dan kembali lagi ke Merdeka (1957–1959). Selain berkarier di dunia jurnalistik, Asa Bafagih juga sempat berkiprah di politik sebagai anggota DPRD Jakarta di masa revolusi dan anggota DPRGR mewakili kelompok wartawan tahun 1959.
Di samping kemampuannya sebagai penulis andal, Asa Bafagih juga seorang poliglot. Dia menguasai bahasa Inggris, Arab, dan Prancis. Kefasihan berbahasa dan intelektualitasnya menyebabkan Presiden Sukarno mengangkat Asa Bafagih sebagai duta besar untuk Srilanka pada 1960 dan duta besar untuk Aljazair hingga 1968.

Saat Asa Bafagih bertugas di Srilanka, dua anaknya lahir yaitu Rusdi Jayaputra dan Fitri Budi Satria. Kedua nama anaknya mengambil unsur bahasa Sanskarta sebagai wujud diplomasi Asa Bafagih untuk mengenal negeri Srilanka. Dari pernikahannya dengan Salmah Shahab, keluarga Asa Bafagih dikaruniai delapan orang anak, empat laki-laki dan empat perempuan.
Usai menunaikan tugas duta besar, Asa Bafagih kembali berkhidmat dalam dunia jurnalistik. Sebagai kolomnis, tulisan-tulisannya dimuat di koran-koran nasional seperti Merdeka, Angkatan Bersendjata, dan Kompas. Pembaca-pembaca harian tersebut begitu meminati artikel yang ditulis Asa Bafagih, terutama analisisnya tentang geopolitik Arab, termasuk isu Palestina.
Sebagian besar kehidupan Asa Bafagih dikontribusikan untuk pers Indonesia bahkan hingga akhir hayatnya. Perhelatan Sidang Dewan Pers 1978 di Semarang menjadi agenda terakhir Asa Bafagih. Dalam perjalanan pulang, Asa Bafagih wafat di Solo pada 13 Desember 1978. Keesokan hari jasadnya dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta. Buya Hamka, yang juga sahabat Asa Bafagih, menjadi imam salat jenazah di acara perkabungan.
Menurut Nabiel A. Karim Hayaze, jejak hidup Asa Bafagih bersentuhan langsung dengan fase-fase paling menentukan dalam sejarah Indonesia. Namanya disebut dalam perjuangan kemerdekaan, pers nasional generasi awal, konsolidasi demokrasi awal, hingga diplomasi internasional di panggung Asia Afrika. Kendati demikian, ketokohan Asa Bafagih hanya sekilas tercatat dalam historiografi nasional.
“Nama Asa Bafagih tidak asing, namun juga tidak benar-benar hadir. Ia hidup dalam arsip, lembaran artikel di media, catatan kaki, dan fragmen-fragmen ingatan keluarga. Selama perjalanan hidupnya sebagai jurnalis, perintis pers Indonesia, dan diplomat, Asa Bafagih memiliki integritas yang sangat tinggi dan kesederhanaan. Sesuatu yang barangkali sangat mahal di zaman sekarang,” kata Nabiel.
Pada 1982, Menteri Penerangan Harmoko, yang masih terhitung murid Asa Bafagih, menyematkan pengahargaan Perintis Pers Indonesia kepada Asa Bafagih. Namun, jurnalis senior Joko Prawoto Mulyadi alias Okky Tirto menilai, ketokohan Asa Bafagih sepi dari ingatan apalagi pembicaraan. Namanya bahkan sayup-sayup di kalangan Nahdliyin atau orang-orang Nahdlatul Ulama, partai tempat Asa Bafagih berkiprah politik, maupun di lingkungan pers nasional.
“Ini menjadi ironis. Orang yang kerjanya memberitakan peristiwa-peristiwa penting, tapi tidak terberitakan, padahal dia adalah orang penting,” kata Okky, buyut dari tokoh pers dan Pahlawan Nasional Tirto Adhi Soerjo, “Boleh jadi juga selaras dengan pembawaan Asa Bafagih yang memang tidak suka menonjolkan diri.”*













Komentar