top of page

Bung Hatta dan Minuman Keras

Bung Hatta dikenal sebagai orang yang anti minuman keras. Gegara minuman beralkohol itu, dia pernah mengusir sekelompok peminum dari kantornya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi Bung Hatta dan minuman keras. (Betaria Sarulina/Historia.ID)

4 Mar 2021
2 menit membaca

Diperbarui: 1 Jun

MINUMAN keras (miras) barangkali tidak pernah singgah di lidah Bung Hatta, wakil presiden pertama Republik Indonesia. Sebagai penganut Islam yang taat, Si Bung tentu saja tidak mengkonsumsi minuman yang  memabukan dan diharamkan. Pendiriannya yang anti minuman keras ini kiranya sudah terlihat sedari muda. Semasa berkuliah di Belanda, Hatta enggan meneguk bir yang merupakan minuman beralkohol yang lazim dikonsumsi orang-orang Eropa kebanyakan.    


Pada suatu malam tahun 1921, Hatta hendak nonton opera bersama rekannya di Hamburg, Jerman. Ketiga teman Hatta itu antara lain, Dahlan Abdullah, Dr. Eichele, dan Usman Idris. Sebelum nonton, mereka makan malam dulu di suatu restoran di Hamburg.


Dalam Memoir, Hatta mengisahkan ketiga temannya memesan bir untuk minum sedangkan dirinya pesan air es saja. Setelah selesai makan dan membayar harganya, Dahlan Abdulah menertawakan Hatta. Setelah meneliti isi tagihan, air es yang dipesan Hatta ternyata lebih mahal harganya daripada bir. Dr. Eichele dan Usman Idris pun ikut merasa lucu dengan situasi itu. 

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page