top of page

Bung Karno dan Sepakbola Indonesia

Meski punya pengalaman kurang menyenangkan, Sukarno peduli dengan sepakbola nasional. Dia memprakarsai pembangunan stadion utama, dari Lapangan Ikada hingga Gelora Bung Karno.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Presiden Sukarno memberikan tendangan mula pada pertandingan antara Timnas Indonesia vs Sino Malay pada 1951 di Lapangan BVC. (Sumber: Repro Museum Bung Karno/ANRI.)

  • 5 Jun 2025
  • 4 menit membaca

PRESIDEN Republik Indonesia pertama Sukarno punya pengalaman kurang menyenangkan dengan olahraga sepakbola. Semasa bocah di Mojokerto, Sukarno acap dirundung anak-anak Belanda di perkumpulan sepakbola. Mereka enggan bermain satu lapangan bersama anak-anak pribumi seperti Sukarno. Alih-alih main bersama, Sukarno malah jadi sasaran olok-olok bernada rasis dari anak-anak Belanda.


“Anak-anak Belanda tidak pernah mau bermain dengan anak pribumi. Itu tidak mungkin dilakukan. Mereka adalah orang Barat yang putih seperti salju, yang murni, yang baik dan mereka memandang rendah kepadaku karena aku anak pribumi atau inlander. Bagiku klub sepakbola itu adalah pengalaman pahit yang tidak mungkin kulupakan,” tutur Sukarno dalam otobiografinya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis Cindy Adams.


Kendati demikian, Sukarno bukan berarti presiden yang tidak menaruh perhatian sama sekali terhadap pengembangan sepakbola nasional. Pundit sejarah sepakbola Indonesia Dimas Wahyu Indrajaya mengatakan Bung Karno juga peduli untuk memajukan olahraga di Indonesia, termasuk sepakbola. Salah satunya dibuktikan dengan pembangan Lapangan Ikatan Atletik Jakarta (Ikada).

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
KH Chalimi once led the Surabaya student movement opposing Suharto’s re-election as president. He was arrested and then detained at the notorious Kalisosok Prison.
bg-gray.jpg
Bukan tanpa alasan Ahmad Subardjo dijuluki “Sang Penjamin Kemerdekaan”. Namun, dia malah absen saat kemerdekaan diproklamasikan Sukarno.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first steps in Batavia led her into the arena of the national movement.
bg-gray.jpg
Setelah kembali ke Indonesia, Ahmad Subardjo menjadi pengacara yang diawasi ketat oleh pemerintah kolonial Belanda. Menepi dari aktivitas politik, Subardjo pergi ke Jepang.
Pada 3 Juli 1922, Suwardi mendirikan sebuah perguruan di Yogyakarta untuk anak-anak bumiputera bernama Taman Siswa.
Pada 3 Juli 1922, Suwardi mendirikan sebuah perguruan di Yogyakarta untuk anak-anak bumiputera bernama Taman Siswa.
Artikel Suwardi sangat menyinggung pemerintah kolonial. Mereka pun langsung mengerahkan polisi untuk memeriksa Suwardi dan rekan-rekan perjuangannya.
Artikel Suwardi sangat menyinggung pemerintah kolonial. Mereka pun langsung mengerahkan polisi untuk memeriksa Suwardi dan rekan-rekan perjuangannya.
 Juri memilih Historia sebagai media partner yang paling inovatif dalam menyajikan konten sejarah populer
Juri memilih Historia sebagai media partner yang paling inovatif dalam menyajikan konten sejarah populer
Pameran foto-foto zaman revolusi yang belum pernah beredar. Menampilkan wajah baru sejarah Indonesia awal kemerdekaan.
Pameran foto-foto zaman revolusi yang belum pernah beredar. Menampilkan wajah baru sejarah Indonesia awal kemerdekaan.
Selain Indonesia, ada tiga negara lain yang pernah batal jadi host Piala Dunia U-20. Salah satunya bahkan sampai dua kali.
Selain Indonesia, ada tiga negara lain yang pernah batal jadi host Piala Dunia U-20. Salah satunya bahkan sampai dua kali.
Dua wartawan pada jalan nasib yang menyimpang.
Dua wartawan pada jalan nasib yang menyimpang.
transparant.png
bottom of page