top of page

Sukarno Tak Terbiasa Berolahraga

Gagah berorasi di podium namun siapa nyana, Sukarno "malas" berolahraga. Meski demikian, Si Bung menaruh perhatian yang besar terhadap perkembangan olahraga nasional.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Presiden Sukarno memberikan tendangan penghormatan pada pertandingan yang di gelar di BVC tahun 1951. (Repro Museum Bung Karno/ANRI).

7 Agu 2020
3 menit membaca

Apabila diamati sepintas, Bung Karno memiliki tubuh yang  lumayan atletis, tegap dan gagah. Posturnya pun tergolong ideal untuk rata-rata orang Indonesia.  Dalam berbagai potret tampak sosoknya yang penuh daya pesona. Apalagi kalau sedang berada di atas podium menyampaikan pidato yang berapi-api. Kendati demikian, Bung Karno bukanlah seorang yang terampil berolahraga.


Sukarno dalam otobiografinya mengakui dirinya tidak menonjol dalam hal olahraga. Pada masa kecilnya di Mojokerto, Sukarno memang jago bermain sumpit dan memanjat pohon. Tapi Sukarno tidak dapat unjuk kebolehan dalam bermain bola.


“Bagaimanapun juga, ada permainan di mana seorang anak bangsa Indonesia dari jamanku tidak dapat menunjukkan keahliannya. Misalnya perkumpulan sepakbola,” kata Sukarno dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams.


Dalam perkumpulan sepakbola, kata Sukarno, “Aku bukan hanya tidak bisa menjadi ketuanya bahkan aku tidak dapat lama menjadi anggotanya.”  Menurut Sukarno keterbatasannya dalam olahraga disebabkan kelakuan anak-anak orang Belanda yang usil. Sukarno enggan bermain bola lantaran olok-olok anak Belanda yang suka merundung anak-anak pribumi seperti dirinya. Baginya, perkumpulan sepakbola itu merupakan pengalaman pahit yang membikin hati luka di dalam.


“Anak-anak yang berambut jagung itu menjaga kedua sisi dari pintu masuk sambil berteriak, ‘hei kau Bruine. Hei anak kulit coklat goblok yang malang. Bumiputra, inlander, anak kampung. Hei, kamu lupa memakai sepatu,’” kenang Sukarno dalam otobiografinya. 


Pada masa pergerakan nasional, Sukarno boleh jadi orator yang tiada duanya. Tapi soal main bola, Bung Karno kalah dari Hatta dan Sutan Sjarir, koleganya sesama orang pergerakan. Hatta dan Sjahrir bahkan membentuk kesebelasan sepakbola waktu diasingkan ke Boven Digul, Merauke pada 1935. Hatta menjadi bek kanan sedangkan Sjahrir menempati posisi gelandang kiri.  


Cerita lain mengenai kebiasaan olahraga Bung Karno disaksikan oleh sesepuh TNI Letjen (Purn.) Sayidiman Suryohadiprodjo. Pada 1946, Sayidiman masih menjadi taruna Akademi Militer (AM) Yogyakarta. Saat itu, Bung Karno yang sudah menjabat presiden Republik Indonesia meminta Suwardi, gubernur AM agar mencarikan beberapa taruna untuk memberinya latihan gimnastik. Sayidiman bersama dua taruna lain ditunjuk sebagai pelatih yang akan melatih Bung Karno bergerak badan. Setiap pagi Sayidiman dan rekannya dijemput ke Gedung Agung untuk mengajari Bung Karno.


“Tetapi Bung Karno tidak konsisten dalam menjalankan latihan olahraga. Setelah empat kali sudah tidak ada panggilan lagi,” kata Sayidiman dalam otobiografinya Sayidiman: Mengabdi Negara sebagai Prajurit TNI.


Dalam laman pribadinya, Sayidiman lebih gamblang lagi menuturkan pengalaman olahraga bersama Bung Karno. Kata Sayidiman, orang yang biasanya kita lihat sebagai pemimpin yang gagah beruniform dan berpeci hitam, terlihat sebagai orang yang mulai gendut perutnya dengan rambut yang menipis.  Dengan rajin Bung Karno dan para pembantunya mengikuti petunjuk taruna pelatih dalam melakukan gerak-gerak gimnastik.


“Akan tetapi setelah 4 bulan kami memberikan latihan Bung Karno rupanya menghadapi pekerjaan yang makin banyak. Dan beliau menghentikan latihan gimnastik itu,” tutur Sayidiman dalam sayidiman.suryohadiprojo.com. 


Meskipun kerap lalai latihan senam, ketika menjabat kepala negara, Sukarno menaruh perhatian yang besar terhadap perkembangan olahraga nasional. Di masa Sukarno, Indonesia pernah menghelat pesta olahraga yakni Asian Games pada 1962 dan Ganefo pada 1963. Dalam kompetisi olahraga bertaraf internasional itu, Indonesia menjadi tuan rumahnya.


Untuk itu semua, Bung Karno memprakarsai pembangunan gelanggang olahraga raksasa yang dinamai sesuai namanya: Gelora Bung Karno (GBK). Mulai dibangun sejak 1959, pembangunan GBK menghabiskan biaya sebesar 12.5 juta dollar yang berasal dari bantuan pemerintah Uni Soviet. Setelah rampung, GBK menjelma sebagai stadion termegah di Asia dengan kapasitas 100.000 penonton.


Pada Asian Games 1962, Indonesia berhasil meraih status finalis (peringkat 2) di bawah Jepang. Itu merupakan prestasi terbesar Indonesia di dunia olahraga. Sementara itu di kancah Ganefo, Indonesia menempati peringkat ke-3 di bawah Republik Rakyat Tiongkok dan Uni Soviet. Tidak hanya mengejar medali, Sukarno menggunakan  Ganefo untuk mempersatukan negara Asia dan Afrika sebagai suatu kekuatan baru dunia.


“Di mata Sukarno, olahraga sama membanggakannya dengan politik. Olahraga adalah cara wicara lewat kekuatan raga untuk menarasikan kekuatan negara,” tulis Muhidin M. Dahlan dalam Ganefo: Olimpiade Kiri di Indonesia.


Mengenai prestasi, atlet Indonesia di masa Sukarno tergolong unggul. Untuk level Asia, sepakbola Indonesia masih cukup diperhitungkan. Sementara itu, Indonesia begitu disegani pada cabang olahraga bulu tangkis yang pernah menjuarai turnamen bergengsi seperti Thomas Cup.


Pada 1964, Sukarno punya mimpi besar proyeksi olahraga di Indonesia. Dalam sebuah kesempatan pidato,  dia menyerukan bahwa Indonesia dalam sepuluh tahun mendatang, rakyat Indonesia akan menduduki tempat paling tinggi di lapangan olahraga. Sayangnya, mimpi itu tidak sempat terwujud lantaran Bung Karno lengser pada 1967.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Kasus perdagangan anak di daerah transmigrasi Rawa Makmur, Kalimantan Timur ungkap kemiskinan ekstrem yang menjerat kehidupan para transmigran. Praktik korupsi aparat disinyalir biang keladinya.
bg-gray.jpg
Panglima tempur yang memadamkan gejolak di berbagai daerah. Menggagas banyak hal penting setelah aktif lagi di Angkatan Darat.
bg-gray.jpg
Sebagai gubernur militer, Gatot Soebroto berperan dalam penumpasan pemberontakan PKI di Madiun. Dia disebut turut bertanggung jawab atas eksekusi mati Amir Sjarifoeddin cs.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi kepala polisi wilayah Banyumas pada awal kemerdekaan. Dekat dengan anak buah, Gatot berhasil memimpin pasukan dalam pertempuran Ambarawa.
Di tengah pandemi orang berharap vaksin menjadi solusi. Bagaimana ketika dahulu vaksin belum dikenal?
Di tengah pandemi orang berharap vaksin menjadi solusi. Bagaimana ketika dahulu vaksin belum dikenal?
Mars menjadi destinasi utama robot-robot penjelajah ilmiah karena manusia belum mampu sampai ke sana. Namun robot-robot itu tak bisa pulang ke Bumi.
Mars menjadi destinasi utama robot-robot penjelajah ilmiah karena manusia belum mampu sampai ke sana. Namun robot-robot itu tak bisa pulang ke Bumi.
Mayoritas museum di Indonesia masih menampilkan sisi rekreasi.
Mayoritas museum di Indonesia masih menampilkan sisi rekreasi.
Cristiano Ronaldo memilih putus sekolah untuk bermain sepakbola. Dijuluki Si Lebah Kecil.
Cristiano Ronaldo memilih putus sekolah untuk bermain sepakbola. Dijuluki Si Lebah Kecil.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
Kisah srikandi basket Indonesia. Menebus prestasi di Manila sepeninggal sang ayah.
Kisah srikandi basket Indonesia. Menebus prestasi di Manila sepeninggal sang ayah.
transparant.png
bottom of page