top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Cara Cucu KH Noer Ali Menyelami Heroisme Sang Kakek

Pertempuran Sasak Kapuk yang -mencuatkan nama KH Noer Ali- direka ulang dalam sebuah drama, di Bekasi. Sosok sang pahlawan diperankan langsung oleh cucunya.

18 Nov 2017

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

"Nur Ali ketika memerankan sosok kakeknya yang juga bernama sama, KH Noer Ali. "

  • 19 Nov 2017
  • 2 menit membaca

RAUT wajah dan sorot mata pria itu menampakkan ketenangan bak air telaga. Namun, hatinya bergejolak. Setelah memberi pembekalan pada murid-muridnya, dia langsung memimpin mereka ke tempat penghadangan di Sasak Kapuk (kini Pondong Ungu, Kota Bekasi). Di sana, mereka akan menghadapi pasukan pemenang Perang Dunia II.


Adegan itu menempati bagian awal perhelatan reka ulang Pertempuran Sasak Kapuk yang digelar Ikatan Abiturien Attaqwa dan Komunitas Sejarah Front Bekasi pada Sabtu, 18 November 2017. Acara yang dibuat untuk memperingati Hari Pahlawan itu berlangsung di Lapangan Pesantren Attaqwa, Ujungmalang, Bekasi.


Gambaran fisik dan spirit Nur Ali, sang pemimpin, tadi mampu memancarkan gambaran sosok KH Noer Ali, pahlawan nasional yang memimpin rakyat Bekasi dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Bukan kebetulan bila hal itu bisa terjadi. Nur Ali merupakan salah satu cucu KH Noer Ali sang pahlawan. Ayah Nur Ali, KH Amin Noer –pendiri Yayasan Attaqwa, merupakan anak ketiga KH Noer Ali.


Maka, Nur Ali amat bersemangat ketika memerankan sang kakek. Bermodal pistol Webley, dia ikut berjibaku ‘becek-becekan’ di lapangan bersama pasukannya yang diperankan 40 siswa Pesantren Putra Attaqwa Pusat. Itu merupakan cara Nur Ali menyelami heroisme kakeknya tentang masa-masa revolusi yang belum pernah didengarnya semasa sang kakek masih hidup. “Kesannya memerankan beliau itu luar biasa sekali. Ada rasa senang, namun juga ada harapan. Saya memang ingin tahu bagaimana menonjolnya sosok beliau (di masa perjuangan –red.),” ujar Nur Ali kepada Historia.


Untuk memerankan sosok sang kakek, Nur Ali menyempatkan diri ikut latihan drama itu di sela-sela kesibukanya mengajar di Pesantren Attaqwa. Latihan itu sendiri berjalan hampir setiap hari sejak sebulan pra Hari H. “Kesulitannya ya mungkin karena memang saya enggak punya basic reka ulang atau drama. Apalagi kan peran utama ini sosok yang cukup dituakan dan juga kakek sendiri,” sambungnya.


Nur Ali amat bangga bisa memerankan sosok kakeknya. Terlebih, sang ayah KH Amin Noer ikut memberi masukan padanya. Dan yang terpenting, Nur Ali bisa memetik keteladanan dari kakeknya, seorang ulama pejuang yang pada 2006 ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah.


“Yang bisa kita teladani dari KH Noer Ali tentang peristiwa ini (Pertempuran Sasak Kapuk –red.) adalah tekad yang bulat. Dia juga merupakan sosok pemimpin yang sayang kepada anak buahnya. Kita juga bisa meneladani strateginya yang matang (dalam berperang di masa revolusi),” tandas Nur Ali.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Kesultanan paling kaya di masa Hindia Belanda luluh lantak digilas revolusi sosial. Padahal, sang sultan telah menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.
Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Setelah memimpin pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi masuk hutan dan menghilang. Diduga telah dibunuh Jepang, tetapi dirahasiakan sehingga makamnya tidak ditemukan.
Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Basis God Bless Donny Fattah pandai menulis lagu dan peduli pada kehidupan bangsanya. Lagunya cukup kritis di era Orde Baru.
bottom of page