top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Cerita dari Stadion Kridosono (Bagian II–Habis)

Stadion tertua di Yogyakarta yang gairah sepakbolanya berganti jadi ikon panggung musik rock. Belum jadi bangunan cagar budaya.

28 Nov 2024

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Sisi dalam Stadion Kridosono yang sudah berusia 86 tahun. (Randy Wirayudha/Historia.ID).

Diperbarui: 4 Jan

LANGIT gelap disertai hujan mengguyur kawasan Nieuwe Wijk, Yogyakarta pada Kamis, 27 Januari 1938, petang. Namun, hal itu tak mengurangi kemeriahan pembukaan Bijleveld-stadion (kini Stadion Kridosono). Selain dihadiri para petinggi sipil dan militer kolonial, hadir pula dalam pembukaan itu ketua Voetbalbond Djokja de Omstreken (VBDO) Mr. Engelkamp, Ketua Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU) atau Persatuan Sepakbola Hindia Belanda Johannes Christoffel Jan Mastenbroek, dan Gubernur Yogyakarta Johannes Bijleveld. Tak ketinggalan, Sri Sultan Hamengkubuwono VIII (HB VIII) dan Paku Alam VIII juga turut menempati tribun utama.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

Advertisement

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Alkisah Masjid Buzancy di Ardennes, Prancis yang dibangun atas permintaan Sultan Salahuddin. Hancur semasa Revolusi Prancis. Kini beralih fungsi jadi sekolah.
Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

God Bless tak mau sembarangan bikin album. Laris bukan tujuan mereka menelurkan album.
Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Tuan Rondahaim melawan Belanda di Simalungun hingga akhir hayatnya. Dia tidak pernah menyerah. Penyakit rajalah yang menghentikan perlawanannya.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
bottom of page