- M.F. Mukhti
- 23 Mar 2015
- 3 menit membaca
Diperbarui: 12 jam yang lalu
JAUH sebelum Lee Kuan Yew memutuskan untuk melepaskan diri dari Federasi Malaysia pada 9 Agustus 1965, hubungannya dengan Indonesia sudah lebih dulu terjalin. Pada Agustus 1960, dia melakukan kunjungan resmi pertamanya ke Jakarta. Dia menemui Presiden Sukarno yang menjamunya di Istana Merdeka.
Namun, dalam 20 menit perbincangannya itu, Lee Kuan Yew menemukan Sukarno berlawanan dari yang dia kagumi sebelumnya. Menurutnya, Sukarno terlalu “angkuh” dan dia kurang nyaman dengan sikap Sukarno yang menempatkan dirinya seakan seorang kakak yang selalu menasihati adiknya.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












