- 29 Okt 2012
- 4 menit membaca
Diperbarui: 19 Mar
SEBELUM meninggal pada 16 Agustus 1985, R. Katjasungkana berpesan agar dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Bintaro, Jakarta Selatan. Dia ingin dekat dengan makam sahabatnya, Wakil Presiden Mohamad Hatta. Setelah 26 tahun lebih, pihak keluarga memutuskan memindahkan makam itu ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan.
“Kalau di TPU Tanah Kusir, ada kekhawatiran soal keamanan makam nantinya digusur dan jadi mall,” kata Nursyahbani Katjasungkana, aktivis perempuan yang merupakan anak ketujuh R. Katjasungkana.
Katjasungkana lahir di Pamekasan, Madura, pada 24 Oktober 1908. Dia anak dari pasangan R. Sosrodanukusumo dan Siti Rusuli. Sosrodanukusumo, wedana di Sampang dan Bangkalan, merupakan lulusan terbaik Sekolah Pegawai Pangreh Praja (Mosvia) di Probolinggo, pendiri Sarikat Islam di Sampang, serta aktivis koperasi garam rakyat yang berjuang agar harga garam tak ditentukan sewenang-wenang oleh Belanda.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















