top of page

Dayo, Pusat Kerajaan Sunda Terakhir

Pusat pemerintahan terakhir Kerajaan Sunda berada di Dayo. Keberadaannya tercatat dalam naskah tradisional dan catatan orang Eropa.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Potret wilayah Buitenzorg (Bogor) (Foto: rijksmuseum.nl)

28 Jan 2020
5 menit membaca

Diperbarui: 3 Jun

KEBERADAAN Sunda Empire mulai meresahkan. Sejak kemunculannya di awal 2020, banyak pernyataan mereka yang dianggap oleh sejumlah pihak tidak selaras dengan realitas. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pun angkat bicara soal kelompok yang menggegerkan publik dari daerahnya tersebut.


Dilansir KompasTVKang Emil menyebut kalau masih ada saja orang-orang yang menjual romantisme sejarah demi eksistensinya. Ia juga merasa prihatin karena banyak yang mempercayainya. "Banyak orang stres ya di Republik ini, menciptakan ilusi-ilusi. Jangan percaya terhadap hal-hal yang tidak masuk ke dalam logika akal sehat," ucap Kang Emil.


Para akademisi pun secara tegas membantah berbagai klaim petinggi Sunda Empire, Rangga Sasana. Dalam program televisi Indonesia Lawyers Club, 20 Januari 2020, Sunda Empire semakin berani angkat bicara. Dengan percaya diri, mereka menyebut bahwa pusat pemerintahan dunia ada di Bandung. Bahkan organisasi dunia, seperti PBB dan NATO, lahir di Kota Kembang  itu.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page