top of page

Di Balik Prasasti Kutukan Sriwijaya

Tujuan Sriwijaya menempatkan prasasti kutukan di tempat-tempat strategis.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Tonggak-tonggak kayu sisa dermaga pelabuhan Kota Kapur di tepi sungai Menduk, Bangka. (Dok. Puslit Arkenas).

22 Jan 2020
4 menit membaca

Diperbarui: 3 Mei

SEBAGIAN besar prasasti kutukan yang dikeluarkan penguasa Sriwijaya ditempatkan di daerah strategis dari sisi ekonomi. Tujuannya untuk mengikat masyarakat agar tak memberontak dan patuh terhadap perintah raja. 


Beberapa prasasti kutukan yang ditemukan di Palembang yaitu Prasasti Bom Baru, dan Prasasti Telaga Batu. Prasasti Kota Kapur ditemukan di Pulau Bangka dan Prasasti Karang Berahi ditemukan di Jambi. Sedangkan Prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Jabung ditemukan di Lampung.  


Menurut Sondang M. Siregar, peneliti Balai Arkeologi Sumatra Selatan, dalam “Prasasti-Prasasti Kutukan dari Masa Sriwijaya”, termuat di Menggores Aksara, Mengurai Kata, Menafsir Makna, kata “kutuk” dan “semoga” (berkat) sering tertulis di prasasti-prasasti itu. Kutukan ini merupakan pesan penting dari pembuat prasasti kepada masyarakat di lokasi prasasti ditempatkan.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi tentara Belanda ditentang sang ayah karena tidak ingin anaknya menjadi penindas bangsanya. Dia membuktikan diri sebagai tentara yang peduli kaum lemah hingga dicap sersan gila oleh atasannya.
bg-gray.jpg
Ikut dikirim ke Ambon, Gatot Soebroto dikira keluarganya sudah mati. Masa Pendudukan Jepang membuatnya “menukar” seragam dari KNIL ke PETA.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s long journey to fight for justice for women came to a halt during the Japanese occupation.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto berani dan suka berkelahi, yang berakibat dikeluarkan dari sekolah. Di balik sikap kerasnya, dia baik hati ibarat seharum tanjung tetapi sekeras baja.
Seorang kapten kapal dan dokter menulis catatan harian seputar kehidupan di Batavia.
Seorang kapten kapal dan dokter menulis catatan harian seputar kehidupan di Batavia.
Kolaborasi kelompok teater Belanda-Indonesia di Festival Teater Jakarta. Mengangkat repertoir eks-KNIL dengan trauma dan fantasinya.
Kolaborasi kelompok teater Belanda-Indonesia di Festival Teater Jakarta. Mengangkat repertoir eks-KNIL dengan trauma dan fantasinya.
Dokumenter pahlawan dari Fuentalbilla yang ditempa di La Masia. Memendam beban psikis di balik sifatnya yang kalem dan dingin.
Dokumenter pahlawan dari Fuentalbilla yang ditempa di La Masia. Memendam beban psikis di balik sifatnya yang kalem dan dingin.
Bergeming di bawah hujan salju, ribuan orang di Manchester dan Munich haru biru mengenang 60 tahun tragedi yang menimpa MU.
Bergeming di bawah hujan salju, ribuan orang di Manchester dan Munich haru biru mengenang 60 tahun tragedi yang menimpa MU.
Mengenal sepakbola dari ekspatriat, negeri kecil di Teluk Persia ini tampil di pentas internasional lewat Piala Dunia.
Mengenal sepakbola dari ekspatriat, negeri kecil di Teluk Persia ini tampil di pentas internasional lewat Piala Dunia.
Dengan pendekatan yang kreatif, museum bukan lagi destinasi yang menjemukan.
Dengan pendekatan yang kreatif, museum bukan lagi destinasi yang menjemukan.
transparant.png
bottom of page