- 30 Nov 2022
- 5 menit membaca
Diperbarui: 21 Jul
BERTOPI hitam dan t-shirt warna senada bertuliskan “Ambon Manise, Malintang Pata Pele Putus”, seniman berambut putih itu duduk tenang di barisan tengah kursi penonton di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Sambil menggenggam berlembar-lembar naskah, sesekali lelaki itu berbisik pada rekan seniman di sebelahnya kala memperhatikan para pemainnya di atas panggung.
“Alex! Alex!” seru Anis de Jong, lelaki tadi, memerintahkan seorang pemainnya untuk merendahkan posisi bertumpu pada lututnya di satu adegan. Adegan itu menampilkan tokoh utama yang berpakaian lusuh, Moses, yang diperankan Alex Lekatompessy, terpaku mendengar sejoli pemeran Raja Willem dan Ratu Máxima memberi pernyataan permintaan maaf kepada bangsa Indonesia atas kekerasan Belanda di masa kolonial dan Perang Kemerdekaan Indonesia.
Pun di beberapa babakan lain, Anis sebagai sutradara menginstruksikan dalam bahasa Belanda bahwa ada satu atau dua pemainnya yang lupa blocking atau menempatkan properti.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















